FSB UNG Siap Perkuat Internasionalisasi Menuju World Class University 2026

fsb.ung.ac.idGorontalo – Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menyatakan komitmennya dalam mendukung penuh agenda strategis internasionalisasi UNG tahun 2026. Hal ini ditegaskan langsung oleh Dekan FSB, Prof. Dra. Nonny Basalama, M.A., Ph.D., dalam rangkaian kegiatan Penyusunan dan Review Pagu Indikatif Tahun Anggaran 2026 yang digelar di Manado, 29–30 Juli 2025.

Kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi awal seluruh unit kerja UNG dalam menyusun program dan anggaran yang selaras dengan arah kebijakan Rektor dan Wakil Rektor IV UNG.

Mengusung visi UNGGUL dan Berdaya Saing, UNG melalui arahan Wakil Rektor IV, Dr. Harto Malik, M.Hum., mendorong seluruh unit untuk menyusun program-program internasionalisasi yang konkret dan berdampak. Fokus ini mencakup aspek tata kelola akademik, kelembagaan, kemahasiswaan, serta kolaborasi global yang mampu mendongkrak posisi UNG secara internasional.

“Kita harus mulai berpikir dan bertindak dalam kerangka global. Target kita jelas: internasionalisasi bukan sekadar slogan, tapi kerja nyata yang ditopang oleh program strategis di setiap unit,” tegas Dr. Harto dalam sambutannya.

Menanggapi arahan tersebut, Prof. Nonny Basalama menyampaikan bahwa FSB bergerak cepat dalam merespon agenda internasionalisasi dengan menyiapkan program-program unggulan yang terukur dan sesuai dengan kekhasan keilmuan fakultas.

“Kami di FSB langsung menyusun langkah cepat. Di antaranya pembukaan program internasional dalam bidang bahasa dan budaya, peningkatan kerja sama dengan universitas luar negeri, serta penguatan kapasitas dosen dan mahasiswa untuk mobilitas global,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa FSB terus mengejar target pencapaian IKU universitas.

Lebih lanjut, FSB menargetkan peningkatan jumlah riset yang didanai oleh kementerian, serta penyelenggaraan seminar internasional berbasis riset dan budaya lokal. Seluruh program tersebut dirancang agar tidak hanya mendukung capaian institusional UNG, tetapi juga memperkuat posisi FSB sebagai pusat kajian sastra, bahasa, dan budaya yang adaptif terhadap tuntutan global.

“Internasionalisasi adalah keniscayaan, dan FSB siap menjadi salah satu motor penggeraknya di UNG,” pungkas Prof. Nonny.