fsb.ung.ac.id, Gorontalo – Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pendidikan inklusif melalui kegiatan Workshop BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) bertema “Sign of Love: Merangkul Keberagaman lewat BISINDO” yang diselenggarakan oleh HMJ Pendidikan Sendratasik 2026, Rabu (06/05/2026), di Laboratorium Tari Jurusan Pendidikan Sendratasik, Kampus 1 UNG.
Kegiatan ini menjadi ruang edukatif sekaligus reflektif bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya komunikasi inklusif, khususnya bagi teman Tuli di lingkungan akademik. Workshop dibuka secara resmi oleh Sekretaris Jurusan Pendidikan Sendratasik, Dr. Riana D. Sitharesmi, S.Sn., M.A., yang hadir mewakili Ketua Jurusan.
Dalam sambutannya, Dr. Riana menegaskan bahwa pembelajaran inklusif bukan hanya tentang memberikan akses pendidikan, tetapi juga membangun lingkungan kampus yang ramah terhadap seluruh mahasiswa tanpa terkecuali.
“Bahasa isyarat bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap keberagaman. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk lebih peka, terbuka, dan mampu membangun interaksi yang inklusif di lingkungan kampus,” ujarnya.
Workshop menghadirkan pemateri utama, Muhammad Al Urwatul Wutsqa Yasrullah, S.Pd., seorang teman Tuli, sekaligus alumni Jurusan Pendidikan Khusus Universitas Negeri Makassar. Kehadirannya atas rekomendasi Yayasan Tunarungu Helen Wimberty Gorontalo. Dalam sesi pemaparan, peserta diperkenalkan pada dasar-dasar BISINDO, budaya Tuli, hingga praktik komunikasi langsung menggunakan bahasa isyarat.
Agar proses penyampaian materi berjalan optimal, kegiatan ini turut didampingi oleh Juru Bahasa Isyarat (JBI) bersertifikat, Nabila Salsabila Robot, S.Ag., alumni IAIN Gorontalo, yang membantu menjembatani komunikasi antara pemateri dan peserta workshop.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga diajak mempraktikkan berbagai kosakata dasar dalam BISINDO melalui interaksi langsung yang komunikatif dan menyenangkan.
Ketua panitia Chikita Vestiana Patadjenu menyampaikan bahwa workshop ini lahir dari semangat untuk menciptakan ruang belajar yang lebih inklusif di Jurusan Pendidikan Sendratasik. Terlebih, saat ini jurusan tersebut juga memiliki mahasiswa Tuli, yakni Delfira Suci Amalia Sahi angkatan 2025, yang sedang menempuh pendidikan di lingkungan Sendratasik.
Keberadaan mahasiswa Tuli tersebut menjadi pengingat penting bahwa inklusivitas di dunia pendidikan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, salah satunya dengan membangun kemampuan dasar berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.
Melalui tema “Sign of Love”, HMJ Pendidikan Sendratasik berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan empati, kepedulian sosial, serta kesadaran mahasiswa akan pentingnya merangkul keberagaman di lingkungan kampus. Workshop ini juga menjadi langkah awal untuk memperkuat budaya inklusif di Fakultas Sastra dan Budaya UNG, sehingga seluruh mahasiswa dapat belajar dan berkembang dalam ruang yang setara dan saling mendukung.

#FSBMOLAMAHU