fsb.ung.ac.id, Gorontalo – Inovasi pembelajaran kembali hadir di ruang kelas Bahasa Indonesia. Melalui penelitian kolaboratif bertajuk “Penerapan Audio Interaktif Berbasis Cerita Rakyat dengan Pendekatan Gamifikasi untuk Meningkatkan Keterampilan Menyimak Siswa Kelas X”, pembelajaran di SMAN 6 Kota Gorontalo kini tampil lebih interaktif, kontekstual, dan berbasis teknologi.
Ketua tim peneliti, Wa Ode Irawati mengatakan selama ini, keterampilan menyimak kerap menjadi aspek yang kurang mendapat perhatian dalam pembelajaran bahasa. Padahal, kemampuan memahami teks lisan merupakan fondasi penting dalam penguasaan bahasa. Di tingkat SMA, khususnya kelas X, banyak siswa mengalami kesulitan memahami materi lisan secara efektif. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan media pembelajaran yang cenderung monoton dan kurang melibatkan siswa secara aktif.
Menjawab tantangan tersebut, penelitian ini menghadirkan media audio interaktif berbasis cerita rakyat yang dipadukan dengan pendekatan gamifikasi melalui chatbot. Cerita rakyat dipilih karena dekat dengan kehidupan dan budaya lokal siswa, sehingga materi terasa lebih relevan dan bermakna. Sementara itu, unsur gamifikasi diterapkan untuk meningkatkan motivasi belajar melalui sistem tantangan, poin, serta umpan balik langsung.
Dalam praktiknya, siswa terlebih dahulu mendengarkan cerita rakyat dalam format audio interaktif. Setelah itu, mereka berinteraksi dengan chatbot yang berperan sebagai pemandu pembelajaran. Chatbot memberikan pertanyaan, tantangan, serta umpan balik terkait isi cerita untuk menguji sekaligus memperdalam pemahaman siswa. Proses ini membuat pembelajaran tidak lagi satu arah, melainkan dialogis dan partisipatif.
Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi selama proses pembelajaran berlangsung. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan keterampilan menyimak siswa, yang terlihat dari kemampuan mereka memahami isi cerita secara lebih mendalam serta meningkatnya partisipasi aktif di kelas.
Tak hanya berdampak pada pemahaman materi, pendekatan ini juga menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan menantang. Siswa menjadi lebih antusias karena pembelajaran dikemas layaknya permainan edukatif, bukan sekadar mendengarkan dan mencatat.
Inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif solusi dalam pengembangan media pembelajaran berbasis teknologi yang efektif dan kontekstual. Dengan memadukan kekayaan budaya lokal dan teknologi digital, pembelajaran bahasa tidak hanya meningkatkan kompetensi akademik, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya daerah.