Di Balik Kisah Dongeng, Film Aladdin Dinilai Perkuat Stereotip Timur Tengah

fsb.ung.ac.idGorontalo – Film animasi Aladdin (1992) karya Disney selama puluhan tahun dikenal sebagai dongeng penuh petualangan dan romansa. Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkap sisi lain dari film klasik tersebut, yakni bagaimana Aladdin merepresentasikan budaya Timur Tengah melalui lensa stereotip dan fantasi Barat.

Yayu Sri Rahayu Kobandaha dalam penelitian skripsinya yang berjudul “Stereotip Budaya Timur Tengah dalam Film Aladdin (1992) karya Disney” mengkaji representasi budaya dalam Aladdin dengan menggunakan pendekatan kualitatif serta tiga kerangka teori utama, yaitu Teori Representasi Stuart Hall, Teori Stereotip Richard Dyer, dan konsep Orientalisme Edward Said. Fokus analisis diarahkan pada karakter, alur cerita, serta latar visual yang membentuk narasi film.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Disney menciptakan gambaran Timur Tengah yang terbaratkan melalui kota fiktif Agrabah. Kota ini merupakan gabungan unsur budaya Arab, Persia, dan Asia Selatan, yang tidak merepresentasikan satu budaya secara autentik, melainkan memperkuat citra Timur sebagai ruang eksotis dan imajiner.

Karakter utama seperti Aladdin dan Jasmine digambarkan sebagai sosok heroik, mandiri, dan progresif dengan nilai-nilai Barat yang kuat. Sebaliknya, tokoh antagonis Jafar direpresentasikan sebagai figur Orientalis klasik: licik, manipulatif, haus kekuasaan, dan tidak rasional. Sementara itu, Sultan digambarkan tidak kompeten dan kekanak-kanakan, memperkuat stereotip lama tentang penguasa Timur yang lemah dan sewenang-wenang.

Menariknya, karakter Genie yang digambarkan secara positif juga dinilai sangat terbaratkan. Humor Amerika, referensi budaya pop Barat, dan gaya komunikasi modern menjadikan Genie jauh dari konteks budaya Timur Tengah yang menjadi latar cerita film.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa Aladdin tidak hanya merefleksikan pandangan Barat terhadap Timur Tengah, tetapi juga secara aktif memperkuat dominasi budaya Barat melalui media populer. Representasi yang disederhanakan dan dieksotiskan ini berpotensi membentuk persepsi global yang keliru terhadap masyarakat Arab.

Sebagai rekomendasi, penelitian ini menekankan pentingnya keautentikan budaya dalam produksi media global, penguatan literasi media kritis di dunia pendidikan, serta perlunya kajian lanjutan terhadap adaptasi Aladdin versi terbaru untuk menilai apakah representasi budaya Timur Tengah mengalami perbaikan.

Artikel penelitian selengkpnya dapat dilihat disini