fsb.ung.ac.id, Gorontalo – Siapa sangka, mahasiswa yang dikenal aktif dan percaya diri justru menunjukkan tingkat kecemasan tertinggi saat menulis dalam bahasa Inggris. Fakta ini terungkap dalam penelitian berjudul “Level dan Tipe Kecemasan Menulis Bahasa Inggris dalam Perspektif Kepribadian Mahasiswa: Studi Deskriptif Kuantitatif” yang dilakukan oleh tim peneliti dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Penelitian ini diketuai oleh Indri Wirahmi Bay dengan anggota tim Nonny Basalama, Sartin T. Miolo, dan Rahman Taufiqrianto Dako. Studi ini menyoroti bagaimana tipe kepribadian ekstrover, ambiver, dan introver mempengaruhi tingkat serta jenis kecemasan mahasiswa dalam menulis bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL).
Melibatkan 118 mahasiswa sebagai partisipan, penelitian ini menggunakan Eysenck Personality Questionnaire (EPQ) untuk mengidentifikasi tipe kepribadian, serta Second Language Writing Anxiety Inventory (SLWAI) dari Cheng (2004) untuk mengukur tingkat kecemasan menulis. Dari total responden, terdapat 32 mahasiswa ekstrover, 73 ambiver, dan 13 introver.
Hasilnya cukup mengejutkan. Mahasiswa ekstrover tercatat memiliki tingkat kecemasan menulis paling tinggi, disusul ambiver. Sementara itu, mahasiswa introver menunjukkan tingkat kecemasan paling rendah dan relatif stabil pada kategori sedang.
Jenis kecemasan yang paling dominan di semua kelompok adalah kecemasan kognitif. Kecemasan ini ditandai dengan keraguan diri, pikiran yang mudah teralihkan, serta ketakutan terhadap penilaian negatif. Adapun kecemasan somatik (gejala fisik seperti tegang atau gugup) dan kecemasan penghindaran muncul dalam tingkat yang lebih rendah.
Temuan ini mempertegas bahwa kecemasan menulis tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan bahasa, tetapi juga oleh karakteristik kepribadian individu. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan pengajaran yang sensitif terhadap perbedaan kepribadian mahasiswa serta responsif terhadap aspek afektif dalam proses pembelajaran.
Dengan memahami faktor psikologis ini, diharapkan dosen dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih inklusif dan suportif, sehingga mahasiswa mampu mengelola kecemasan mereka dan meningkatkan kualitas tulisan dalam bahasa Inggris.