Film Enola Holmes Tawarkan Tafsir Baru Peran Gender Era Victoria

fsb.ung.ac.idGorontalo – Film Enola Holmes (2020) tidak hanya menyajikan kisah detektif yang seru, tetapi juga menghadirkan representasi peran gender yang menantang norma tradisional. Hal ini terungkap dalam sebuah penelitian skripsi yang dilakukan Ester Tenteyali yang mengkaji bagaimana karakter Enola Holmes dan Tewksbury digambarkan dalam konteks sosial era Victoria.

Dengan menggunakan teori representasi Stuart Hall (1997), penelitian ini menelusuri cara film membangun, menegosiasikan, hingga menentang pandangan gender yang dominan pada masanya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan intrinsik dan ekstrinsik untuk memahami karakter, alur cerita, serta konteks sosial budaya yang melatarbelakangi film.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Enola Holmes direpresentasikan sebagai sosok perempuan muda yang mandiri, cerdas, dan berani. Karakter ini secara jelas menentang ekspektasi masyarakat Victoria yang membatasi peran perempuan pada ranah domestik dan kepatuhan sosial. Enola tampil sebagai simbol perlawanan terhadap konstruksi gender tradisional.

Sementara itu, karakter Tewksbury juga digambarkan berbeda dari stereotip laki-laki pada era tersebut. Ia ditampilkan dengan maskulinitas yang lebih lembut, emosional, dan ekspresif—berlawanan dengan gambaran laki-laki dominan dan kaku yang lazim pada masa Victoria.

Melalui kedua tokoh ini, Enola Holmes memperkenalkan interpretasi identitas gender yang lebih fleksibel. Film ini menegaskan bahwa media, khususnya film, memiliki peran penting dalam membangun makna baru mengenai peran gender dan merefleksikan pergeseran nilai sosial. Dengan demikian, Enola Holmes tidak sekadar menjadi tontonan hiburan, tetapi juga medium kritik sosial terhadap konstruksi gender yang mapan.

Artikel penelitian selengkpnya dapat dilihat disini