Gangguan Kecemasan Segara Alam: Kisah yang Menyentuh Hati

fsb.ung.ac.idGorontalo – Novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori telah menarik perhatian dengan kisah Segara Alam, seorang tokoh yang mengalami gangguan kecemasan berupa Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Penelitian terbaru Masni Hasan, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (Bastrasia), Fakultas Sastra dan Budaya (FSB), Universitas Negeri Gorontalo (UNG), menggunakan teori PTSD Gerald C. Davison, et. al. untuk menganalisis gejala kecemasan Segara Alam dan menemukan beberapa hal menarik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Segara Alam mengalami tiga gejala utama kecemasan, yaitu gejala penghindaran, gejala gairah, dan gejala mengalami kembali.

Gejala penghindaran meliputi upaya untuk menghindari aktivitas, tempat, atau orang yang membangkitkan ingatan tentang trauma, ketidakmampuan untuk mengingat aspek penting dari peristiwa tersebut, dan minat atau partisipasi yang sangat berkurang dalam aktivitas yang signifikan.

Gejala gairah ditunjukkan dalam kesulitan tertidur atau tidur dan kewaspadaan berlebihan, sedangkan gejala mengalami kembali meliputi kenangan yang mengganggu atau berulang tentang peristiwa tersebut dan penderitaan emosional yang mendalam.

Kisah Segara Alam adalah contoh bagaimana gangguan kecemasan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang, dan bagaimana penting untuk memahami dan mengatasi gejala-gejala tersebut.

Artikel penelitian selengkpnya dapat dilihat disini