fsb.ung.ac.id, Penelitian – Nama sebuah dusun ternyata bukan sekadar penanda wilayah. Di balik setiap nama, tersimpan cerita, mitos, hingga jejak hubungan manusia dengan alam yang diwariskan secara turun-temurun. Hal inilah yang diungkap dalam penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Veramita Umar, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo (FSB UNG).
Melalui skripsinya yang berjudul “Kajian Mitologi Antropolinguistik terhadap Nama-Nama Dusun di Kecamatan Wonosari”, Veramita berhasil menelusuri makna budaya dan kisah tradisional yang tersembunyi di balik penamaan dusun-dusun di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo.
Penelitian yang dibimbing oleh Prof. Dr. Mohamad Karmin Baruadi, M.Hum., dan La Ode Gusman Nasiru, S.Pd., M.A., ini menggunakan pendekatan mitologi dan antropolinguistik untuk mengkaji hubungan antara bahasa, budaya, dan kepercayaan masyarakat lokal.
Dalam proses penelitian, Veramita melakukan wawancara dengan tokoh masyarakat, sesepuh desa, kepala desa, kepala dusun, hingga warga yang masih mengetahui sejarah dan cerita tradisional terkait asal-usul nama dusun. Dari hasil penelitian tersebut, ditemukan bahwa tidak semua dusun masih menyimpan cerita asal-usul yang dikenal masyarakat.
Dari 14 desa di Kecamatan Wonosari, hanya dua desa yang nama dusunnya masih memiliki mitos dan cerita tradisional yang terus dikenang masyarakat, yakni Desa Pangeya dan Desa Tanjung Harapan. Di Desa Pangeya terdapat Dusun Iloponu, Dusun Olibuhu, dan Dusun Oliyanuhe, sedangkan di Desa Tanjung Harapan terdapat Dusun Botulontio dan Dusun Ulintapo.
Menariknya, asal-usul nama dusun tersebut erat kaitannya dengan unsur alam dan kepercayaan masyarakat setempat. Beberapa nama muncul dari keberadaan mata air, pohon tertentu, hingga lokasi yang dianggap sakral oleh masyarakat pada masa lampau.
Melalui analisis mitologi menggunakan konsep miteme dari Claude Lévi-Strauss, penelitian ini menemukan bahwa unsur-unsur alam tersebut bukan sekadar bagian dari cerita rakyat, tetapi menjadi simbol yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap kehidupan. Sementara itu, kajian antropolinguistik menunjukkan bahwa nama dusun berfungsi lebih dari sekadar identitas geografis. Nama-nama tersebut menjadi simbol budaya yang menyimpan memori kolektif, nilai kehidupan, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.
Menurut Veramita Umar, penelitian ini penting dilakukan sebagai upaya mendokumentasikan kearifan lokal yang mulai terlupakan akibat perkembangan zaman dan perubahan sosial masyarakat. Tradisi lisan yang selama ini diwariskan secara turun-temurun dinilai memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat penting bagi generasi muda.
Penelitian ini sekaligus memperlihatkan bagaimana bahasa mampu menjadi jembatan untuk memahami identitas budaya masyarakat. Nama dusun yang selama ini terdengar sederhana ternyata menyimpan filosofi, sejarah, dan pandangan hidup masyarakat Gorontalo yang kaya akan nilai budaya.
Melalui penelitian ini, Veramita berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga tradisi lisan dan warisan budaya daerah sebagai bagian dari identitas lokal. Selain memperkaya kajian antropolinguistik dan mitologi lokal, penelitian tersebut juga diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata dalam upaya pelestarian budaya daerah di Gorontalo.
Artikel penelitian selengkpnya dapat dilihat disini
#FSBMOLAMAHU