Makna Tersirat di Balik Lohidu: Penelitian Ungkap Nilai Budaya dalam Sastra Lisan Gorontalo

fsb.ung.ac.idPenelitian – Di tengah arus modernisasi yang kian deras, keberadaan sastra lisan tradisional perlahan mulai tergerus. Namun, penelitian terbaru yang dilakukan oleh Ishak Y. Majid justru mengangkat kembali kekayaan makna dalam salah satu warisan budaya Gorontalo, yakni lohidu.

Melalui skripsinya berjudul “Makna Denotasi dan Konotasi dalam Sastra Lisan Lohidu pada Masyarakat di Kecamatan Tilamuta Kabupaten Boalemo”, Ishak mengungkap bahwa lohidu bukan sekadar pantun tradisional, melainkan medium komunikasi yang sarat nilai budaya, sosial, dan spiritual.

Di bawah bimbingan Prof. Dr. Asna Ntelu, M.Hum., dan Dr. Salam, S.Pd., M.Pd., MCE., penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengkaji makna yang terkandung dalam setiap bait lohidu. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, rekaman, serta pencatatan dari masyarakat di Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lohidu memiliki dua lapis makna utama, yakni denotasi (makna literal) dan konotasi (makna kiasan). Makna denotasi terlihat pada penggunaan kata-kata yang secara langsung menggambarkan objek atau peristiwa, seperti kata talohutu yang merujuk pada aktivitas membuat sesuatu, serta ito’olo yang menunjukkan jumlah lebih dari satu.

Sementara itu, makna konotasi dalam lohidu justru menjadi kekuatan utama sastra lisan ini. Melalui bahasa yang halus dan simbolik, masyarakat menyampaikan kritik sosial dan nasihat kehidupan. Misalnya, kata olawango yang secara denotatif berarti jaring laba-laba, namun secara konotatif menggambarkan kondisi kotor atau tidak terurus.

“Lohidu bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana pendidikan moral dan refleksi sosial,” ungkap Ishak dalam penelitiannya.

Lebih jauh, penelitian ini menemukan bahwa pesan-pesan dalam lohidu kerap menyentuh berbagai aspek kehidupan, seperti pentingnya menjaga nilai religius, menghindari kesombongan, menjauhi perselingkuhan, hingga menghormati orang tua. Nilai-nilai tersebut disampaikan secara implisit, sehingga lebih mudah diterima tanpa menyinggung secara langsung.

Temuan ini menegaskan bahwa lohidu merupakan cerminan cara masyarakat Gorontalo mengekspresikan pengalaman hidup mereka—menggabungkan bahasa, budaya, dan kearifan lokal dalam satu bentuk sastra yang unik.

Penelitian ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya upaya pelestarian sastra lisan di tengah perubahan zaman. Tanpa perhatian serius, lohidu berpotensi kehilangan eksistensinya sebagai identitas budaya daerah.

Melalui kajian ini, Ishak berharap generasi muda semakin sadar akan nilai luhur yang terkandung dalam tradisi lisan, serta terdorong untuk menjaga dan mengembangkannya sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.

Artikel selengkpnya dapat dilihat disini