fsb.ung.ac.id, Penelitian – Kemampuan tata bahasa (grammar) kerap dianggap sebagai fondasi utama dalam penguasaan bahasa Inggris. Namun di balik pentingnya aspek ini, tersimpan persoalan yang jarang disadari: kecemasan belajar grammar atau grammar anxiety. Fenomena ini menjadi sorotan dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Audy Meylinda Mokoginta, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo.
Penelitian yang melibatkan 90 mahasiswa semester IV ini mengungkap bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami tingkat kecemasan grammar pada level sedang, yakni sebesar 68,89 persen. Sementara itu, 16,67 persen mahasiswa berada pada tingkat kecemasan tinggi, dan hanya 14,44 persen yang tergolong rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa kecemasan dalam mempelajari grammar bukanlah kasus individu, melainkan fenomena yang cukup meluas di kalangan pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL students).
Menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan instrumen Grammar Anxiety Scale (GAS), penelitian ini juga mengidentifikasi tiga aspek utama yang memengaruhi kecemasan mahasiswa. Aspek yang paling dominan adalah penekanan berlebih pada pembelajaran grammar (Emphasis on Grammar Learning). Artinya, cara pengajaran yang terlalu fokus pada aturan dan ketepatan struktur justru berpotensi meningkatkan tekanan psikologis pada mahasiswa.
Selain itu, faktor keyakinan siswa (Learner Beliefs) turut berperan dalam membentuk kecemasan. Banyak mahasiswa yang merasa bahwa grammar adalah aspek yang sulit dan harus dikuasai secara sempurna, sehingga mereka cenderung takut melakukan kesalahan. Pengalaman belajar sebelumnya (Grammar Learning Experience) juga ikut memengaruhi, terutama jika mahasiswa pernah mengalami metode pembelajaran yang kaku atau kurang mendukung.
Menariknya, penelitian ini menegaskan bahwa grammar anxiety bukan sekadar persoalan akademik, tetapi juga menyangkut aspek emosional yang berdampak langsung pada kepercayaan diri dan partisipasi mahasiswa di kelas. Mahasiswa yang cemas cenderung enggan berbicara, takut mencoba, dan akhirnya kurang berkembang dalam keterampilan berbahasa.
Sebagai implikasi, penelitian ini merekomendasikan agar dosen bahasa Inggris menciptakan suasana pembelajaran yang lebih suportif, komunikatif, dan berpusat pada mahasiswa. Pendekatan yang menekankan proses daripada kesempurnaan dinilai mampu mengurangi kecemasan sekaligus meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam belajar grammar.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa dalam pembelajaran bahasa, aspek psikologis tidak bisa diabaikan. Grammar memang penting, tetapi cara mengajarkannya jauh lebih menentukan. Di sinilah peran pendidik menjadi kunci bukan hanya sebagai pengajar aturan, tetapi juga sebagai fasilitator yang membangun rasa percaya diri dan keberanian belajar.
Artikel selengkpnya dapat dilihat disini