Pelatihan Penggunaan Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Web oleh Mahasiswa UNG di SMKN 1 Suwawa

fsb.ung.ac.idGorontalo – Mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Bastrasia), Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), telah melaksanakan kegiatan pelatihan mengenai pemanfaatan media pembelajaran interaktif berbasis web yang ditujukan bagi para guru di SMK Negeri 1 Suwawa.

Kegiatan ini merupakan implementasi dari program pengabdian kepada masyarakat yang difokuskan pada peningkatan literasi digital guru, dalam rangka menjawab tuntutan pembelajaran yang adaptif di era abad ke-21. Upaya ini mencerminkan peran aktif mahasiswa dalam menginisiasi pengembangan kapasitas guru dalam penggunaan teknologi pembelajaran secara efektif dan inovatif.

Dalam sesi pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada tiga jenis media pembelajaran interaktif, yaitu Socrative, Zep.Quiz, dan Wizer.me. Masing-masing platform menawarkan fitur unik yang mendukung pembelajaran aktif dan partisipatif, seperti sistem evaluasi otomatis, kuis berbasis permainan edukatif, serta lembar kerja digital yang memungkinkan kolaborasi siswa. Penggunaan ketiga media ini diyakini dapat memperkaya metode pembelajaran sekaligus mendorong keterlibatan siswa secara lebih optimal, terutama dalam konteks pembelajaran daring maupun hibrida.

Respons positif dari para guru terlihat selama pelatihan berlangsung. Mereka tampak antusias mengeksplorasi berbagai fitur yang ditawarkan oleh ketiga platform tersebut, serta menunjukkan minat besar untuk menerapkan teknologi ini dalam proses belajar mengajar. Sikap terbuka dan semangat para pendidik ini menjadi cerminan kesiapan mereka dalam menerima inovasi pendidikan, serta menandakan adanya kebutuhan akan pembaruan metode mengajar yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Namun demikian, pelaksanaan pelatihan tidak terlepas dari sejumlah hambatan teknis. Beberapa guru menghadapi kendala dalam proses login akun email yang menjadi syarat awal untuk mengakses media pembelajaran. Selain itu, keterbatasan perangkat menjadi kendala signifikan karena sebagian guru hanya mengandalkan telepon genggam, yang memiliki keterbatasan fungsi dibandingkan dengan laptop. Kualitas jaringan internet yang kurang stabil di lokasi kegiatan turut memperlambat proses pelatihan, menandakan pentingnya kesiapan infrastruktur dalam mendukung pelatihan teknologi berbasis digital.

Pelatihan ini diawali dengan penyampaian materi tentang Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), yang merupakan kerangka kerja integratif dalam menyatukan aspek teknologi, pedagogi, dan konten pembelajaran. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktik yang memungkinkan para guru langsung mencoba dan mengaplikasikan media pembelajaran yang telah diperkenalkan. Para mahasiswa berperan sebagai fasilitator dan narasumber, memastikan setiap peserta memperoleh pendampingan yang tepat selama pelatihan berlangsung.

Sebelum terjun ke lapangan, tim mahasiswa pelatih telah melalui tahapan persiapan intensif selama dua minggu. Persiapan tersebut meliputi pendalaman materi terkait media pembelajaran, penyusunan skenario pelatihan, hingga pelaksanaan simulasi di hadapan dosen pembimbing sebagai bentuk uji coba awal. Evaluasi dari simulasi tersebut digunakan sebagai bahan refleksi untuk memastikan kelayakan dan kesiapan tim dalam menyampaikan pelatihan secara profesional di hadapan guru.

Penetapan SMK Negeri 1 Suwawa sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan bukanlah keputusan yang acak, melainkan merupakan bentuk apresiasi atas kerja sama sekolah tersebut dalam mendukung pelaksanaan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) I oleh mahasiswa sebelumnya. Oleh karena itu, pelatihan ini dipandang sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa UNG terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah mitra, sekaligus mempererat hubungan kemitraan antara lembaga pendidikan tinggi dan sekolah menengah kejuruan.

Berdasarkan hasil evaluasi, mayoritas guru menyampaikan bahwa ini merupakan kali pertama mereka berinteraksi langsung dengan media pembelajaran berbasis web. Namun, pendekatan pelatihan yang bersifat aplikatif dan berbasis pendampingan terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman mereka terhadap penggunaan teknologi dalam kelas. Antusiasme peserta juga menjadi indikator bahwa mereka terbantu dan termotivasi untuk mulai mengintegrasikan media tersebut dalam proses pembelajaran.

Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal dari transformasi digital dalam dunia pendidikan kejuruan, sebagai respons terhadap tantangan Revolusi Industri 4.0 dan perubahan paradigma pendidikan global. Para mahasiswa pelatih juga berharap agar pelatihan ini dapat ditindaklanjuti melalui program pendampingan berkelanjutan serta penyusunan modul pelatihan lanjutan yang dapat memperkuat kapasitas guru dalam memanfaatkan teknologi secara berkelanjutan.(Dr. Herman Didipu, S.Pd., M.Pd, Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo)