fsb.ung.ac.id, Gorontalo – Puisi “Menulis Syair Untuk Presiden Episode Pertama dan Episode Kedua” karya Pulo Lasman Simanjuntak telah menarik perhatian dengan makna yang mendalam dan kritik sosial-politik yang tajam.
Penelitian terbaru Ayu Anantha Zahabi, Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (Bastrasia), Fakultas Sastra dan Budaya (FSB), Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggunakan teori semiotik Michael Riffaterre untuk menganalisis puisi ini dan menemukan beberapa hal menarik.
“Analisis heuristik menunjukkan bahwa puisi ini menggunakan bahasa yang sederhana dan struktur yang mudah dipahami, membuat maknanya dapat dijangkau oleh pembaca”
“Aspek hermeneutik menunjukkan bahwa puisi ini menyiratkan kritik sosial-politik melalui simbolisme dan refleksi mendalam terhadap kondisi bangsa,” ujar Ayu Anantha Zahabi
Ayu Anantha Zahabi mengatakan, puisi ini juga menampilkan kritik terhadap kepemimpinan yang gagal dan korup, dengan simbol presiden sebagai representasi antara harapan dan kekecewaan rakyat.
“Analisis hipogram menunjukkan bahwa puisi ini mencerminkan respons penyair terhadap realitas sosial-politik Indonesia, termasuk kritik atas ketimpangan, korupsi, dan pembangunan yang tidak merata”
“Puisi Pulo Lasman Simanjuntak ini adalah contoh bagaimana karya sastra dapat menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan kritik sosial-politik dan mengajak pembaca untuk merenungkan makna kepemimpinan dan keadilan,” ujarnya.
Artikel penelitian selengkpnya dapat dilihat disini