Stigma dalam Gerakan: Kajian Sosiolinguistik tentang Tanda Tangan Geng di TikTok

fsb.ung.ac.idGorontalo – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melakukan penelitian ilmiah yang menyoroti fenomena komunikasi digital di media sosial, khususnya pada platform TikTok.

Penelitian yang dilakukan oleh Moh Ramadhan ini mengangkat judul “Stigma dalam Gerakan: Sebuah Studi Sosiolinguistik tentang Tanda Tangan Geng di TikTok”, dengan bimbingan Muziatun, S.Pd., M.App.Ling., Ph.D sebagai pembimbing I dan Fahria Malabar, S.Pd., M.A sebagai pembimbing II.

Penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa bahasa tidak hanya hadir dalam bentuk verbal, tetapi juga melalui simbol dan gerakan nonverbal yang sarat makna sosial. Dalam konteks media sosial, berbagai ekspresi nonverbal sering kali mengalami pergeseran makna karena ditafsirkan oleh publik secara beragam. Salah satu contoh yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah gang hand signs atau gerakan tangan yang diasosiasikan dengan kelompok geng tertentu, seperti yang dikenal dalam budaya populer Amerika Serikat.

Melalui perspektif sosiolinguistik, Moh Ramadhan mengkaji bagaimana stigma terhadap gerakan tangan tersebut muncul dan menyebar dalam kolom komentar video di TikTok. Pada platform digital yang sangat interaktif ini, gerakan tangan yang sering dikaitkan dengan kelompok geng seperti Bloods dan Crips kerap ditafsirkan secara negatif oleh pengguna. Padahal, dalam banyak kasus, gerakan tersebut muncul dalam konteks hiburan, parodi, atau konten komedi.

Penelitian ini menyoroti bagaimana kesalahpahaman terhadap simbol nonverbal dapat memunculkan stigma digital yang memengaruhi cara pengguna memandang serta berinteraksi dengan kreator konten. Permasalahan utama yang diteliti adalah bagaimana pengguna TikTok mereproduksi dan memperkuat stigma melalui komentar terhadap kreator yang menggunakan gang hand signs, bahkan ketika konteks video tidak berkaitan dengan aktivitas kriminal.

Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan landasan teori sosiolinguistik dari Ronald Wardhaugh dan Janet Holmes (2013), serta teori stigma dari Bruce G. Link dan Jo C. Phelan (2001). Data penelitian dikumpulkan dari sejumlah komentar pada lima video prank yang diunggah oleh kreator TikTok Zoy March.

Hasil analisis menunjukkan bahwa bentuk stigma yang paling dominan muncul dalam kolom komentar adalah pelabelan (labeling) dan stereotip. Banyak pengguna dengan cepat mengaitkan gerakan tangan dalam video dengan identitas kriminal atau keanggotaan geng tertentu, meskipun tidak ada konteks yang mengarah pada aktivitas tersebut. Komentar-komentar tersebut menunjukkan kecenderungan publik untuk melakukan penilaian sosial secara cepat berdasarkan simbol visual yang terbatas.

Temuan penelitian ini menegaskan bahwa ruang komunikasi digital bukan hanya menjadi tempat berbagi hiburan, tetapi juga arena terbentuknya social judgement dan negosiasi identitas. Pengguna media sosial secara aktif berperan dalam membentuk dan menyebarkan stigma melalui bahasa dan interpretasi simbol yang mereka gunakan dalam interaksi daring.

Melalui penelitian ini, Moh Ramadhan berharap kajian sosiolinguistik dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika bahasa dan simbol di media sosial, sekaligus mendorong pengguna internet untuk lebih kritis dan reflektif dalam menafsirkan serta menanggapi konten digital.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa fenomena bahasa di ruang digital terus berkembang dan memerlukan perhatian akademik yang serius, terutama dalam memahami hubungan antara bahasa, identitas, dan kekuasaan dalam masyarakat modern.

Artikel penelitian selengkpnya dapat dilihat disini