fsb.ung.ac.id, Gorontalo – Prestasi akademik kembali ditorehkan oleh mahasiswa Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Abdul Gias Tomayahu, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) ini berhasil menerbitkan sebuah buku berjudul Ngomong Jangan Asal: Panduan Bahasa Indonesia yang Nggak Bikin Pusing.
Buku tersebut diterbitkan oleh YPAD Yogyakarta dan telah resmi memiliki ISBN 978-638-7261-67-0. Karya ini disusun sebagai panduan praktis penggunaan bahasa Indonesia yang ditujukan untuk masyarakat umum, dengan pendekatan yang komunikatif, ringan, namun tetap berpijak pada kaidah kebahasaan yang benar.
Dekan FSB UNG, Prof. Dra. Nonny Basalama, MA., Ph.D menyampaikan apresiasi atas capaian akademik yang diraih mahasiswa tersebut. Menurutnya, penerbitan buku oleh mahasiswa merupakan bentuk nyata kontribusi akademik dalam mendukung literasi dan pemasyarakatan bahasa Indonesia di tengah masyarakat.
“Buku ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan ilmiah dalam bentuk karya yang bermanfaat dan mudah diakses oleh publik,” ujar Prof. Nonny.
Prof. Nonny mengatakan, melalui buku Ngomong Jangan Asal, penulis mengulas berbagai fenomena kesalahan berbahasa yang sering dijumpai dalam komunikasi sehari-hari, baik lisan maupun tulisan, termasuk yang berkembang di media sosial.
“Materi disajikan secara sistematis dan disertai contoh-contoh kontekstual, sehingga pembaca dapat memahami penggunaan bahasa Indonesia secara tepat tanpa merasa terbebani”
“Mewakili pimpinan dan civitas akademika Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo, kami berharap capaian ini dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, serta berkontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, khususnya di bidang kebahasaan,” ujarnya.
Seemnetara itu, penulis buku Ngomong Jangan Asal, Abdul Gias Tomayahu menjelaskan bahwa, buku ini lahir dari kegelisahannya melihat penggunaan bahasa Indonesia yang kerap keliru namun dianggap lumrah. Ia berupaya menyusun buku yang tidak bersifat menggurui, tetapi mengajak pembaca untuk lebih sadar dan kritis dalam berbahasa.
“Buku ini saya tulis sebagai upaya sederhana untuk mendekatkan kaidah bahasa Indonesia kepada masyarakat luas dengan cara yang lebih santai dan mudah dipahami. Bahasa yang baik tidak harus rumit, dan bahasa yang benar tidak harus terasa kaku,” ungkapnya.
Ia berharap, kehadiran buku tersebut dapat menjadi referensi praktis bagi pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum dalam meningkatkan kualitas berbahasa Indonesia di ruang publik,” pungkasnya.