fsb.ung.ac.id, Gorontalo – Upaya pelestarian budaya lokal kembali digaungkan melalui riset bertajuk “Manifestasi Nilai Kearifan Masyarakat Bolaang Mongondow dalam Penciptaan Tari Sinungkudan” yang diketuai oleh Trubus Semiaji dan anggota timnya Riana Diah Sitharesmi. Penelitian ini berfokus pada revitalisasi nilai-nilai tradisi masyarakat Bolaang Mongondow melalui penciptaan karya tari baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
Riset ini berangkat dari kesadaran bahwa identitas diri sebagai manusia berbudaya menjadi fondasi penting di tengah arus post-humanisme dan modernitas yang serba cepat. Dalam konteks tersebut, individu tidak dapat dipisahkan dari akar sejarah dan budaya yang membentuknya. Oleh karena itu, menghadirkan kembali nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal dalam berbagai manifestasi dinilai sebagai langkah mendesak, termasuk melalui pendekatan seni dan pengembangan teknologi.
Menurut Trubus Semiaji selaku Ketua Tim Peneliti, eksplorasi kearifan lokal dalam seni tradisional masyarakat Bolaang Mongondow bukan sekadar pelestarian, melainkan juga penguatan nilai budaya agar tetap hidup di tengah generasi masa kini. Namun, proses tersebut perlu dilakukan dengan pendekatan yang inspiratif dan inovatif, agar mampu berdialog dengan ruang budaya kontemporer.
Penelitian ini menggunakan metode self-ethnography dan artistic-based research untuk menggali, menginterpretasi, sekaligus merevitalisasi nilai-nilai lokal ke dalam bentuk tari kreatif baru bernama Sinungkudan. Hasil riset menunjukkan bahwa penciptaan Tari Sinungkudan memiliki potensi besar untuk menghidupkan kembali unsur-unsur budaya dan pola estetika tari daerah yang nyaris terlupakan.
Tari Sinungkudan dirancang sebagai bentuk tari dinamis yang memadukan konsep praktis dengan kekayaan spektakel digital-aural. Pendekatan ini dinilai lebih dekat dengan karakter generasi Z dan generasi Alpha, sehingga pesan dan nilai kearifan lokal dapat tersampaikan secara efektif dan mudah dipahami.
Lebih dari sekadar karya seni pertunjukan, Tari Sinungkudan diharapkan menjadi representasi nilai estetika, moral, dan sosial masyarakat Bolaang Mongondow dalam kemasan yang kontekstual dengan masa kini. Melalui riset ini, tradisi tidak hanya dijaga, tetapi juga ditransformasikan menjadi sumber inspirasi kreatif yang relevan dan berkelanjutan.