Calon Guru Bahasa Inggris Dinilai Cukup Melek Digital, Namun Masih Perlu Penguatan Desain Media Interaktif

fsb.ung.ac.idGorontalo – Kebutuhan pembelajaran berbasis teknologi dalam pengajaran bahasa Inggris kian mendesak. Hal ini diungkapkan Mohamad Ikbal Hamzah dalam penelitian skripsinya yang berjudul “Pre-Service English Language Teachers’ Digital Competence in Developing Interactive Learning Media” yang mengungkap bahwa calon guru bahasa Inggris telah memiliki kompetensi digital dasar, namun masih memerlukan penguatan dalam desain media pembelajaran interaktif yang lebih kontekstual dan kolaboratif.

Penelitian yang melibatkan sepuluh mahasiswa angkatan 2022 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Gorontalo ini mengkaji persepsi mereka terhadap kompetensi digital selama menjalani Program Pengalaman Lapangan (PPL).

Berlandaskan kerangka European Commission DigCompEdu, studi ini menyoroti tiga domain utama, yakni Sumber Daya Digital, Pengajaran dan Pembelajaran, serta Pemberdayaan Peserta Didik. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara semi-terstruktur yang dianalisis secara tematik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa para calon guru telah menguasai keterampilan operasional dasar dalam menggunakan berbagai platform digital seperti Canva, PowerPoint, Wordwall, dan Baamboozle. Melalui platform tersebut, mereka mampu mengembangkan aktivitas pembelajaran multimodal dan berbasis gim (gamifikasi) yang dinilai efektif dalam meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa.

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Fakultas Sastra dan Budaya (FSB), Universitas Negeri Gorontalo (UNG)itu mengungkapkan bahwa, media interaktif yang dirancang selama PPL dinilai mampu menciptakan suasana belajar yang lebih dinamis dan menarik dibandingkan metode konvensional. Beberapa peserta bahkan memadukan kuis daring, permainan kosakata, serta presentasi visual untuk mendorong partisipasi aktif siswa di kelas.

Meski demikian, penelitian juga menemukan sejumlah keterbatasan. Para partisipan masih menghadapi kesulitan dalam merancang media tingkat lanjut, melakukan adaptasi sesuai konteks sekolah, serta memfasilitasi pembelajaran digital yang kolaboratif.

Kendala tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kurangnya pelatihan praktis selama perkuliahan, akses internet yang tidak stabil, keterbatasan perangkat teknologi di sekolah tempat PPL, serta ketergantungan pada templat digital gratis.

“Sebagian besar masih berada pada tahap penggunaan dasar. Mereka kreatif, tetapi belum sepenuhnya percaya diri dalam mengembangkan media yang lebih kompleks dan kolaboratif,” demikian temuan utama penelitian tersebut.

Menariknya, di tengah berbagai keterbatasan, para calon guru menunjukkan motivasi tinggi untuk meningkatkan kompetensi digital mereka. Hal ini menjadi sinyal positif bagi pengembangan pendidikan guru di Indonesia.

Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan pedagogi digital berbasis pengalaman dalam kurikulum pendidikan guru. Rekomendasi yang diajukan meliputi penyelenggaraan lokakarya praktis, pendampingan berbasis proyek, serta pelatihan desain media interaktif yang aplikatif dan kontekstual.

Dengan langkah tersebut, calon guru diharapkan mampu merancang dan mengelola pembelajaran bahasa Inggris yang terintegrasi teknologi secara inklusif, kreatif, dan efektif di era digital.

Artikel penelitian selengkpnya dapat dilihat disini