Oleh: Nonny Basalama, Esther Tenteyali
fsb.ung.ac.id, Gorontalo – Budaya adalah sesuatu yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Budaya sendiri di pahami berasal dari pemikiran yang di tuangkan dalam tingkah laku ataupun tindakan. Hal ini selaras dengan Koentjaraningrat yang mengartikan budaya sebagai gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat sebagai subyek yang memiliki peranan penting dalam aspek sebagai pelaku budaya, harus memliki sikap budaya dan toleransi sesama masyarakat, dengan bertoleransi kita bisa mengenal lebih banyak kebudayaan yang ada.
Dalam kebudayaan ada yang namanya Budaya Populer. Budaya populer adalah sesuatu yang cenderung dikenal dan digemari oleh kebanyakan masyarakat pada umumnya di seluruh dunia. Lull (1997, 1985 ) menegaskan bahwa budaya populer lebih banyak mengarah pada adanya pemikiran-pemikiran tentang perkembangan kebudayaan dari kreativitas orang kebanyakan di masyarakat. Budaya populer berurusan dengan hal-hal sehari-hari yang dapat dinikmati semua orang. Menurut Ben Agger, sebuah budaya yang akan masuk dunia hiburan maka budaya itu umumnya menempatkan unsur popular sebagai unsur utamanya. Budaya itu akan memperoleh kekuatannya manakala media massa digunakan sebagai penyebaran pengaruh di masyarakat (Burhan Bungin, 2009 : 100 ). Contohnya trend fashion street yang viral di sosial media sekarang ini yakni Citayam Fashion Week.
Belakangan ini istilah Citayam Fashion Week (CFW) menjadi ramai di perbincangkan di kalangan masyarakat termasuk warganet di media sosial. Citayam Fashion Week ini menjadi salah satu budaya populer yang ada di Indonesia, karena digemari dan dikenal oleh khalayak ramai. Ramainya fenomena ini menimbulkan diskusi dan perdebatan, sebagian orang merasa terganggu dengan keberadaannya.
Pernyataan kontra dari Citayam Fashion Week melihat pedagang kaki lima banyak berdatangan ke kawasan fenomena tersebut. Sehingga memicu kenaikan jumlah sampah. Selain itu, dilansir dari Kompas.com pengabaian protokol kesehatan juga menjadi salah satu faktor kontra dari trend ini. Dikarenakan masih banyak pengunjung yang tidak memakai masker saat berkumpul. Namun, tak sedikit pula masyarakat yang memberi dukungan atas trend fashion street ini. Menurut salah satu pengunjung, dengan adanya trend seperti ini para remaja bisa mengekspresikan diri mereka dalam fashion.
Fenomena CFW ini dikaitkan juga dengan trend Harajuku di Jepang yang mengusung konsep yang serupa. Tapi tentunya banyak hal yang bebeda di antara dua budaya popular ini. Berikut beberapa perbedaan antara Citayam Fashion Week dan Harajuku di Jepang.
Style
Para remaja yang datang ke Citayam Fashion Week memiliki style yang unik dan nyentrik dengan motif monokrom yang menarik perhatian. Sedangkan harajuku memiliki keunikan tersendiri dengan pemakaian warna-warna mencolok yang bisa menyorot mata pengunjung. Selain itu, gaya Harajuku juga sering menjadi imajinasi dari karakter sehingga menghasilkan gaya busana yang unik dan khas. Perkembangan gaya busana Harajuku ini semakin dikenal karena sejumlah artis internasional turut serta meramaikan trend ini seperty Lady Gaga dan Nicki Minaj.
Asal-usul Citayam Fashion Week bermula dari anak-anak muda yang sering nongkrong di beberapa kawasan Jakarta Pusat. Mereka datang dari berbagai daerah sekitar ibu kota, seperti Citayam, Bogor dan Depok. Namun, karena sebagian besar remaja tersebut adalah masyarakat Citayam, maka, munculah istilah yang sudah viral sekarang ini. Sedangkan, Harajuku ada ketika Shibuya tidak lagi menjadi pusat mode di tahun 1970-an, maka, mulailah street fashoin Harajuku dilirik. Hal ini di dukung oleh pertunjukkan musik di kawasan tersebut setiap akhir pekan. Sehingga anak-anak muda Jepang menjadikan kawasan tersebut sebagai wadah ekspresi fashion.
Penulis adalah Dosen dan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo..