Oleh: Wahyudin Radjak, M.Sn
fsb.ung.ac.id, Opini – Di tengah derasnya arus digitalisasi, cara lembaga pendidikan membangun citra tak lagi cukup mengandalkan pendekatan konvensional. Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) tampaknya mulai membaca peluang itu, bukan dari baliho atau brosur, melainkan dari sesuatu yang selama ini akrab namun kerap terabaikan: lagu mars fakultas.
Mars FSB yang diciptakan oleh Yunus Dama, S.Pd, M.Pd sejatinya bukan sekadar lagu seremonial. Ia adalah representasi identitas, semangat, dan nilai-nilai kelembagaan. Namun, seperti banyak simbol institusi lainnya, keberadaannya sering hanya hidup di ruang-ruang formal dinyanyikan saat acara resmi, lalu kembali terlupakan dalam keseharian akademik.
Di sinilah letak persoalannya: ketika identitas hanya hadir dalam seremoni, ia kehilangan daya jangkau. Padahal, di era media sosial, identitas justru harus hidup, bergerak, dan beresonansi di ruang digital.
Langkah yang diinisiasi oleh Wahyudin Radjak sebagai CPNS FSB patut diapresiasi sebagai bentuk respons terhadap tantangan tersebut. Melalui program aktualisasi dalam kegiatan Latsar, ia menghadirkan aransemen baru Mars FSB yang lebih segar, adaptif, dan relevan dengan selera generasi masa kini. Di bawah bimbingan Dr. Ulfa Zakaria, S.Pd., M.Hum., upaya ini tidak hanya bersifat teknis musikal, tetapi juga strategis dalam membangun citra institusi.
Menariknya, inovasi ini juga mendapat perhatian dari pimpinan fakultas. Dekan Fakultas Sastra dan Budaya, Prof. Nonny Basalama, MA., Ph.D dalam keterangannya menyambut baik langkah reaktualisasi tersebut. Ia menilai bahwa pembaruan Mars FSB merupakan bentuk kreativitas yang selaras dengan kebutuhan zaman. “Mars fakultas bukan hanya simbol, tetapi juga media yang bisa menjangkau publik lebih luas jika dikemas secara tepat,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan seluruh civitas akademika dalam memanfaatkan karya ini sebagai bagian dari identitas bersama.
Lebih dari sekadar aransemen ulang, langkah ini menyiratkan perubahan cara pandang: bahwa branding tidak selalu harus mahal dan kompleks. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk menghidupkan kembali potensi yang sudah ada lalu mengemasnya dengan cara yang sesuai zaman.
Kehadiran Mars FSB dalam format video lirik di platform seperti YouTube menjadi awal yang menjanjikan. Namun potensi sebenarnya justru akan terlihat ketika lagu ini menembus ruang-ruang personal pengguna media sosial melalui Instagram, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya. Ketika civitas akademika mulai menggunakan Mars FSB sebagai latar story, reels, atau konten kreatif, di situlah lagu ini bertransformasi menjadi alat promosi yang organik dan masif.
Tentu, tantangan berikutnya adalah konsistensi. Sebuah inovasi tidak akan berdampak jika hanya berhenti pada tahap peluncuran. Diperlukan dorongan kolektif agar seluruh elemen fakultas—mahasiswa, dosen, hingga alumni ikut menghidupkan Mars FSB dalam keseharian digital mereka.
Pada akhirnya, inisiatif ini mencerminkan peran ASN, termasuk CPNS, sebagai agen perubahan. Bukan hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga menghadirkan gagasan kreatif yang mampu meningkatkan nilai dan daya saing organisasi.
Mars FSB kini memiliki peluang untuk lebih dari sekadar lagu. Ia bisa menjadi suara yang memperkenalkan Fakultas Sastra dan Budaya kepada dunia, asal diberi ruang untuk didengar, dan yang terpenting, untuk dibagikan.
Penulis adalah Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo..
Mars FSB UNG klik disini