Menelusuri Jejak Kekerabatan Bahasa Gorontalo, Suwawa, Atinggola, dan Bulango dalam Orasi Ilmiah Guru Besar Prof. Asna Ntelu

fsb.ung.ac.idGorontalo – Provinsi Gorontalo memiliki keanekaragaman budaya dan bahasa daerah yang yang hingga kini tetap hidup dan digunakan oleh masyarakat dalam interaksi sehari- hari. Bahasa Gorontalo, Suwawa, Atinggola, Bulango, dan ragam kebahasaan lain yang hidup di wilayah ini tidak hanya merepresentasikan variasi linguistik, tetapi juga menyimpan jejak relasi sosial, migrasi, serta pertukaran budaya yang berlangsung lintas generasi.

Hal ini disampaikan Prof. Dr. Asna Ntelu, M.Hum pada orasi ilmiah pengukuhan guru besarnya dyang berjudul “Menelusuri Jejak Kekerabatan Bahasa Gorontalo, Suwawa, Atinggola, dan Bulango. Di Provinsi Gorontalo, Selasa 3 Februari 2026, di Auditorium Universitas Negeri Gorontalo.

Dalam orasinya, Guru Besar dalam Bidang Kepakaran Analisis Wacana Budaya pada Fakultas sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) itu menyampaikan, dalam perspektif analisis wacana budaya, hubungan kekerabatan bahasa tidak dipandang sekadar sebagai kesamaan bentuk linguistik, melainkan sebagai konstruksi makna budaya yang hidup dalam praktik berbahasa masyarakat Gorontalo.

Cara masyarakat menamai bahasa, membedakan dialek, serta mengklaim kedekatan maupun perbedaan bahasa merepresentasikan relasi sosial dan simbolik yang berkembang. Kajian ini penting karena dapat mengungkap hubungan kekerabatan bahasa-bahasa daerah di wilayah Gorontalo.

Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa bahasa Gorontalo, Suwawa, Atinggola, dan Bulango memiliki hubungan kekerabatan genealogis yang jelas dan terukur. Dari 200 kosakata dasar Swadesh yang dianalisis, 198 pasangan kata memiliki padanan lengkap dalam keempat bahasa tersebut.

Hasil perbandingan leksikal menunjukkan bahwa bahasa Gorontalo memiliki tingkat kekerabatan sebesar 59,09% dengan bahasa Suwawa, 55,05% dengan bahasa Atinggola, dan 57,07% dengan bahasa Bulango. Sementara itu, hubungan antarbahasa lainnya menunjukkan persentase yang lebih tinggi, yakni 64,65% antara Suwawa dan Atinggola, 69,70% antara Suwawa dan Bulango, serta hubungan paling kuat antara Atinggola dan Bulango dengan tingkat kesamaan leksikal mencapai 83,33%.

Penelitian ini menunjukkan bahwa variasi kebahasaan di Provinsi Gorontalo tidak dapat dipahami sebagai perbedaan yang muncul secara tiba-tiba, melainkan sebagai hasil proses diferensiasi historis yang bertahap, berkelanjutan, dan berakar pada satu tradisi kebahasaan yang sama.