Mengungkap Simbol di Balik Mohuntingo: Ritual Kelahiran Sarat Nilai Religius dan Filosofis Masyarakat Gorontalo

fsb.ung.ac.idPenelitian – Yuyun Indriani Ointu, mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo, menghadirkan kajian menarik tentang kekayaan budaya lokal melalui skripsinya yang berjudul “Makna Simbolik Benda-Benda Adat pada Prosesi Mohuntingo di Kecamatan Kabila.” Penelitian ini dibimbing oleh Prof. Dr. Moh. Karmin Baruadi, M.Hum., dan Dr. Muslimin, S.Pd., M.Pd.

Tradisi Mohuntingo merupakan salah satu ritual penting dalam masyarakat Gorontalo yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang anak. Prosesi ini juga menjadi simbol penyucian diri, yang ditandai dengan pemotongan rambut bayi pada usia tujuh hingga empat puluh hari. Lebih dari sekadar ritual adat, Mohuntingo menyimpan makna mendalam yang merefleksikan nilai religius, sosial, dan filosofis yang hidup dalam masyarakat.

Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif, Yuyun mengkaji tradisi ini dengan menggunakan analisis semiotika yang merujuk pada pemikiran Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Peirce. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, serta dokumentasi bersama tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat di Kecamatan Kabila yang masih menjaga kelestarian tradisi tersebut.

Hasil penelitian mengungkap bahwa prosesi Mohuntingo terdiri atas empat tahapan utama, yakni mopotilolo (pembukaan), pembacaan doa dan ayat suci, pemotongan rambut bayi, serta penutupan yang diakhiri dengan doa keselamatan dan jamuan syukuran. Setiap tahapan ini tidak terlepas dari penggunaan berbagai benda adat yang sarat makna simbolik.

Beberapa di antaranya adalah kelapa muda yang melambangkan kesucian dan kehidupan baru, dulang sebagai simbol kehormatan dan kebersamaan, serta sirih pinang yang menjadi tanda penerimaan sosial dalam komunitas. Selain itu, terdapat pula pisau cukur pusaka, minyak wangi, bunga-bungaan, lu’adu, dan bako hati yang secara simbolik merepresentasikan proses penyucian diri, doa keselamatan, serta perlindungan bagi sang bayi.

Secara semiotik, Yuyun menemukan bahwa benda-benda adat dalam prosesi Mohuntingo tidak sekadar perlengkapan ritual, melainkan berfungsi sebagai tanda yang menghubungkan nilai-nilai adat dengan ajaran Islam. Hal ini menunjukkan adanya harmoni antara tradisi lokal dan nilai religius yang membentuk identitas budaya masyarakat Gorontalo.

Penelitian ini menegaskan bahwa tradisi Mohuntingo bukan hanya warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga menjadi media pembelajaran nilai-nilai kehidupan yang kaya makna. Di tengah arus modernisasi, kajian seperti ini menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan kearifan lokal sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa.

Artikel selengkpnya dapat dilihat disini