Bermain Peran dan Speaking: Cara Kreatif Mahasiswa Bahasa Inggris Membangun Kepercayaan Diri

fsb.ung.ac.idGorontalo – Di tengah berkembangnya metode pembelajaran modern, kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris tidak lagi cukup dipelajari hanya melalui teori di dalam kelas. Dibutuhkan ruang yang mampu melatih keberanian, ekspresi, dan kreativitas mahasiswa secara langsung. Hal inilah yang tampak dalam kegiatan “Pelatihan Teknik Bermain Peran Berkonsep PKKMB” yang dilaksanakan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Ruangan Saronde, Kampus 4 Fakultas Sastra dan Budaya UNG, Selasa (19/5/2026).

Kegiatan yang diikuti mahasiswa kelas A tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Inggris dapat dikemas dengan cara yang lebih hidup dan menyenangkan. Melalui teknik bermain peran, mahasiswa tidak hanya belajar menghafal kosakata atau memahami struktur kalimat, tetapi juga belajar mengekspresikan diri, memahami karakter, dan membangun komunikasi yang lebih natural.

Kehadiran dosen pengampu mata kuliah, Prof.Dr.Hasanuddin, M.Hum, menjadi dukungan penting dalam mendorong mahasiswa untuk lebih percaya diri dalam mengembangkan kemampuan speaking mereka. Pendekatan interaktif yang diterapkan selama pelatihan memperlihatkan bahwa proses belajar akan lebih efektif ketika mahasiswa dilibatkan secara aktif dalam praktik dan pengalaman langsung.

Dalam pandangan banyak mahasiswa, speaking sering menjadi keterampilan yang paling menantang dalam pembelajaran bahasa Inggris. Rasa takut salah pengucapan, kurang percaya diri, hingga kecemasan tampil di depan umum masih menjadi hambatan yang umum ditemui. Karena itu, metode bermain peran menjadi salah satu solusi yang relevan untuk membantu mahasiswa keluar dari zona nyaman mereka.

Melalui simulasi karakter, dialog, dan praktik ekspresi, mahasiswa dilatih untuk menggunakan bahasa Inggris dalam konteks yang lebih nyata. Aktivitas seperti ini tidak hanya meningkatkan kemampuan berbicara, tetapi juga melatih keberanian tampil, kemampuan bekerja sama, hingga kreativitas dalam menyampaikan ide.

Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa seni dan bahasa memiliki hubungan yang erat. Bermain peran bukan sekadar hiburan, melainkan media pembelajaran yang mampu membangun keterampilan komunikasi sekaligus apresiasi terhadap karya sastra dan seni pertunjukan. Ketika mahasiswa mampu menghayati karakter dan menyampaikan dialog dengan baik, mereka sebenarnya sedang belajar memahami makna komunikasi secara lebih mendalam.

Pelatihan seperti ini patut diapresiasi dan terus dikembangkan di lingkungan kampus. Di era yang menuntut kemampuan komunikasi global, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu tampil percaya diri, kreatif, dan komunikatif. Kampus pun memiliki peran penting dalam menyediakan ruang pembelajaran yang inovatif agar potensi mahasiswa dapat berkembang secara optimal.

Pada akhirnya, kegiatan pelatihan bermain peran ini menjadi bukti bahwa belajar bahasa Inggris tidak harus selalu berlangsung secara formal dan kaku. Dengan pendekatan yang kreatif dan interaktif, mahasiswa dapat belajar lebih berani berbicara, lebih bebas berekspresi, dan lebih siap menghadapi tantangan komunikasi di masa depan.

#FSBMOLAMAHU