fsb.ung.ac.id, Gorontalo – Magang jurnalistik bukan sekadar mata kuliah, tapi petualangan yang penuh warna. Buku Jejak Langkah Seorang Jurnalis Pemula menggambarkan betapa dunia jurnalistik menawarkan pengalaman tak terlupakan bagi mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo (FSB UNG).
Dari meliput acara pemerintahan hingga bertemu pejabat tinggi, mereka belajar bahwa ID card wartawan adalah “tiket ajaib” yang membuka pintu ke berbagai kesempatan. Seperti kisah Winda yang bisa makan siang di rumah dinas gubernur atau Indah yang dengan percaya diri mewawancarai korban kebakaran, magang ini membuktikan bahwa jurnalistik adalah sekolah kehidupan yang sesungguhnya.
Tantangan demi tantangan berhasil dihadapi dengan kreativitas dan ketangguhan. Mahasiswa seperti Nursella, yang awalnya pemalu, akhirnya bisa mewawancarai narasumber penting berkat dorongan mentor. Ada pula cerita Divany yang sempat “kecolongan” mengambil foto di ruang sidang tanpa izin, lalu belajar pentingnya memahami aturan lapangan. Mereka juga diuji dengan deadline ketat, cuaca ekstrem, dan narasumber yang enggan diwawancarai.
Namun, seperti kata Syahrina, “Kalau ditanya kesan magang? Lihat saja kulitku yang belang—itu jawabannya!”
Magang jurnalistik juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang tak ternilai. Fadil belajar bahwa percaya diri bisa mengubah persepsi orang lain—sampai dikira ajudan gubernur! Sementara Grasela dan Muniva menemukan passion baru sebagai presenter dan dubber berita di TVRI. Tidak ketinggalan, pengalaman Ainsyah yang berhasil menulis berita viral dengan 13 ribu viewers membuktikan bahwa kerja keras berbuah manis. “Kami bukan lagi mahasiswa biasa, tapi pemburu fakta yang siap berlari kejar-kejaran dengan waktu,” tulis Deviana.
Di balik semua keseruan, ada pelajaran tentang manusia dan empati. Vinkan, si gadis introvert, harus melawan rasa malunya untuk mewawancarai kepala dinas. Sementara Nadiva belajar menyampaikan berita duka dengan sensitivitas tinggi saat meliput korban kebakaran. “Menjadi jurnalis itu seperti jadi pendengar sekaligus penyampai cerita,” ujar Sriwahyuni. Pengalaman-pengalaman ini mengukir karakter mereka menjadi pribadi yang lebih tangguh dan peka terhadap lingkungan sekitar.
Program magang jurnalistik UNG bukan hanya tentang mencetak wartawan, tapi juga membentuk generasi yang berani, kritis, dan inspiratif. Sebagaimana disampaikan Dekan FSB UNG, Prof. Nonny Basalama, karya mereka adalah “pantulan jiwa muda yang energik”.
Bagi siapa pun yang ingin mencoba, pesan Feldi patut diingat: “Ambil semua kesempatan, karena magang jurnalistik mengajarkan kita terbang tinggi—meski kadang harus terjatuh dulu.” Kisah-kisah ini membuktikan bahwa di balik deadline dan peluh, ada dunia penuh kejutan yang siap mengubah hidupmu selamanya. (Dr. Herman Didipu, S.Pd., M.Pd, dan Dr. Herson Kadir, S.Pd., M.Pd,. Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo))
(Disarikan dari buku Jejak Langkah Seorang Jurnalis Pemula: Sekelumit Kisah Inspiratif Magang Jurnalistik, 2023, Editor: Herman Didipu dan Herson Kadir)