fsb.ung.ac.id, Opini – Di Gorontalo, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha tidak sekadar menjadi momentum ritual keagamaan yang sarat makna spiritual. Lebih dari itu, keduanya menjelma sebagai ruang pertemuan antara adat dan agama, dua unsur yang hidup berdampingan dan saling menguatkan dalam kehidupan masyarakat. Di antara gema takbir dan langkah jamaah menuju lapangan sholat, ada satu tradisi yang senyap namun penuh daya: mala-mala jenis monggumo.
Tradisi ini bukan sekadar pengantar acara. Ia adalah suara leluhur yang terus hidup, dilantunkan oleh tokoh adat atau bilal yang telah terlatih. Dalam balutan bahasa Gorontalo, monggumo hadir sebagai seruan yang mengajak, mengingatkan, sekaligus menyatukan. Tidak terikat rima atau jumlah baris, namun justru di situlah kekuatannya, ia mengalir bebas, menyentuh kesadaran kolektif masyarakat.
Menariknya, dalam konteks ibadah Hari Raya, monggumo memegang fungsi yang sangat relevan. Sholat Id yang hanya dilaksanakan dua kali dalam setahun kerap membutuhkan pengingat akan tata cara pelaksanaannya. Di sinilah monggumo berperan, menyampaikan kembali niat, gerakan, hingga salam dalam bentuk tutur yang khas dan membumi. Ia bukan sekadar informasi, melainkan penuntun yang disampaikan dengan rasa.
Namun lebih dari sekadar teknis ibadah, monggumo membawa pesan yang lebih dalam. Ia mengajak jamaah untuk hadir tidak hanya secara fisik, tetapi juga dengan hati yang bersih dan niat yang tulus. Ia menegaskan pentingnya menjaga kekhusyukan, mempererat silaturahmi, serta merawat persatuan. Dalam setiap kalimatnya, tersirat ajakan untuk kembali kepada fitrah, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari komunitas.
Di tengah arus modernisasi yang kerap mengikis tradisi, mala-mala monggumo justru menunjukkan keteguhannya. Ia menjadi bukti bahwa adat tidak harus ditinggalkan untuk menjalankan agama, melainkan dapat berjalan seiring, saling menguatkan, dan memperkaya makna ibadah itu sendiri.
Ketika suara monggumo menggema sebelum sholat dimulai, sesungguhnya yang hadir bukan hanya pengingat ritual, tetapi juga panggilan kultural. Ia menyatukan masa lalu dan masa kini, menghubungkan manusia dengan Tuhan sekaligus dengan sesamanya. Dalam harmoni itulah, Hari Raya di Gorontalo menemukan keistimewaannya, bukan hanya sebagai hari kemenangan, tetapi juga sebagai perayaan identitas.
Penulis adalah Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo..