fsb.ung.ac.id, Gorontalo – Ortografi, yang sering didefinisikan sebagai sistem lambang grafis untuk mewakili bunyi bahasa, ternyata memiliki makna yang lebih dalam. Ia adalah wajah bahasa yang dilihat dunia, bukan sekadar menyalin suara, tetapi menata relasi sosial penuturnya.
Hal tersebut ditegaskan Prof. Dr. Suleman Bouti, S.Pd., M.Hum dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Ortografi dalam Masyarakat Tutur Minoritas” pada pengukuhan Guru Besar Tetap Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yang berlangsung di Auditorium UNG, Selasa (03/01/2026).
Guru Besar bidang kepakaran Sosiolinguistik dan Orthography pada Fakultas Sastra dan Budaya menyampaikan, dalam dunia linguistik, ortografi kerap didefinisikan secara sederhana sebagai sistem lambang grafis untuk mewakili bunyi bahasa. Namun, sesungguhnya ortografi bukan hanya “cara menulis bunyi,” melainkan arena sosial yang merekam dinamika kekuasaan, identitas, dan legitimasi.
Ia adalah wajah bahasa yang dilihat dunia; bukan sekadar menyalin suara, tetapi menata relasi sosial penuturnya. Di balik setiap huruf, tersimpan ideologi dan negosiasi tentang siapa yang berhak menulis, siapa yang berhak menentukan bentuk “benar,” dan siapa yang dikecualikan dari percakapan itu.
Kasus Gorontalo, salah satu medan kajian utama dalam riset yang dipaparkan, memperlihatkan kompleksitas multiliterasi yang khas. Di sana hidup berdampingan dua sistem ortografi yang historis dan ideologis: Arab-Pegon sebagai warisan Islam yang banyak digunakan dalam manuskrip dan tradisi keagamaan; serta Latin, sebagai simbol modernitas dan otoritas negara.
Kedua sistem ini tidakserta-merta plug-in dengan struktur bahasa Gorontalo yang memiliki penciri khas fonetik dan morfologis sendiri. Akibatnya, penyesuaian bunyi dengan huruf tidak pernah sepenuhnya stabil, melainkan menjadi ruang negosiasi antara tradisi dan modernitas.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ortografi memiliki dampak yang signifikan pada masyarakat tutur minoritas. Kasus Gorontalo, salah satu medan kajian utama, memperlihatkan kompleksitas multiliterasi yang khas. Di sana hidup berdampingan dua sistem ortografi yang historis dan ideologis: Arab-Pegon sebagai warisan Islam dan Latin sebagai simbol modernitas dan otoritas negara.
Ortografi bukan hanya sistem fonetik, melainkan politik tanda; simbol visual yang mengatur siapa yang dianggap bagian dari bangsa, dan siapa yang tidak. Penelitian ini menunjukkan bahwa ortografi yang baik bukan sekadar benar secara linguistik, tetapi juga selaras dengan “emosi kebahasaan” komunitasnya.
Dengan demikian, ortografi bukan hanya medium bahasa, tetapi juga infrastruktur keadilan sosial. Ia adalah bentuk keberadaan sosial bahasa; sebuah sistem yang hanya hidup sejauh ia dicintai oleh penggunanya.