SIGNIFIKANSI KULTUR ARTISTIK MAHASISWA DISABILITAS DALAM PENTAS TEATER BERBAHASA ISYARAT

Oleh: Dr. Riana Diah Sitharesmi, S.Sn.,MA

fsb.ung.ac.idGorontalo – Temaram panggung tersorot PARcan warna amber dan floodlight biru tua. Debur ombak di kejauhan, ditingkah cicit camar sekali dua, menjadi latar aural pembuka cerita. Set visual mencoba menyajikan suasana jelang sore yang sejuk, di sebuah beranda rumah sederhana di pinggir pantai. Sesaat kemudian, alunan saluang mengalun memadu irama, dan debur ombak pelahan melemah. Sesosok tubuh duduk di sudut kanan panggung, tangan memainkan kain, jarum, dan benang, berkebaya kurung, dan bertutup kepala turban lusuh.

Mande, seorang ibu di jelang tua, sedang menenun sambil matanya sesekali menatap laut. Sekian detik kemudian, dia mengucapkan soliloquie-nya, “Angin laut sedemikian sejuk hari ini….tetapi hatiku terasa kosong. Ah, Malin….Malin….bertahun-tahun kau di rantau, Nak, tapi tak sekalipun kau kirim kabar. Aku masih ingat waktu kau berpamitan dulu, katamu kau ingin mengubah nasib, ingin bahagiakan ibumu. Tapi sampai kini…..hanya sunyi, dan sunyi yang selalu kembali” (Wisran Hadi, 1978).

Soliloque ini tidak bisa didengar oleh telinga audience, atau siapapun yang mengharapkan terdengarnya suara, karena disampaikan oleh Delfira (22 Tahun), aktor Disabilitas Rungu yang memerankan tokoh Mande dalam pentas teater yang memainkan naskah Malin Kundang. Terjemahan verbal pun tidak disertakan untuk mendampinginya, sebuah kesengajaan penyutradaraan yang dipilih untuk memberi intensitas kemunculan bahasa isyarat.

Dua aktor lain mendampingi Delfira, memerankan tokoh Malin dan tokoh Putri Saudagar, dan keduanya berdialog menggunakan bahasa verbal dan bahasa isyarat dasar. Pentas naskah Malin Kundang ini merupakan bagian dari pelaksanaan ujian akhir mata kuliah Pemeranan II yang harus ditempuh oleh mahasiswa jurusan Pendidikan Sendratasik semester 3. Dilaksanakan pada hari Rabu 17 Desember 2025, pentas UAS ini merupakan implementasi project-based learning yang mengaplikasikan teknik bermain drama ala Rendra yang memfokuskan pada penggarapan teknik muncul, teknik memberi isi, dan sikap badan dan gerak yakin (2017: 11-16; 54-57).

Naskah Malin Kundang dipilih selain karena merupakan kisah yang familiar bagi sebagian besar rakyat Indonesia, juga memiliki potensi untuk membangun emosi dan penjiwaan aktor-aktornya secara dramatik (https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/cerita-rakyat-sumatra-barat-legenda-malin-kundang/). Pengampu mata kuliah sekaligus penulis, melakukan eksperimen kecil dengan menyajikan naskah ini menggunakan bahasa isyarat, untuk mengakomodir dan memberdayakan Delfira dalam permainan teater yang ramah disabilitas. Juru Bahasa Isyarat (JBI) tidak disertakan dalam pementasan, dengan maksud memberikan fokus perhatian penuh kepada pengolahan bahasa isyarat, gestur metaforis, dan ekspresi aktor (Delfira).

Audience juga “dipaksa” untuk memahami sendiri makna bahasa non-verbal selama pementasan, untuk mengakrabkan mereka dengan konsep inklusivitas dalam penyajian seni pertunjukan. Sebaliknya, bagi Delfira, ketiadaan JBI juga “memaksa”nya untuk melibatkan diri secara aktif dalam kultur artistik, menyampaikan bahasa isyaratnya dengan kejelasan gestur dan ekspresi dalam dialog-dialognya, dan membangun penghayatannya pada tokoh dan alur cerita.

Pentas pemeranan dengan naskah drama Malin Kundang ini menjadi penyajian perdana teater berbahasa isyarat di jurusan Pendidikan Sendratasik, Fakultas Sastra dan Budaya, UNG. Metode pembelajaran experimental dan akomodatif diterapkan agar peserta didik Disabilitas Rungu berkesempatan sama menemukan ruang kreatifnya, berada bersama teman-teman Dengar-nya menciptakan kultur artistik yang aktif, cerdas, eksploratif, dan penuh empati.

Pentas ditutup dengan Malin yang menjadi batu, akibat dari kutukan yang disampaikan oleh sang ibu yang sakit hati karena kedurhakaan anaknya, sebuah pesan moral bahwa manusia tidak bisa lupa atau meninggalkan asal usulnya. Penulis adalah Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Sendratasik Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo)..