Oleh: Dr. Herman Didipu, S.Pd., M.Pd.
fsb.ung.ac.id, Gorontalo – Pada era digital yang terus berkembang pesat, dunia pendidikan dituntut untuk bertransformasi mengikuti kebutuhan zaman. Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka tidak hidup pada zamanmu.”
Pesan ini sangat relevan saat ini, ketika generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang sarat teknologi. Media digital, seperti aplikasi pembelajaran, platform daring, serta konten multimedia interaktif, menjadi solusi strategis dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih dinamis, menarik, dan sesuai dengan gaya belajar siswa masa kini.
Bagi guru, media digital adalah kotak peralatan ajaib yang memperluas daya jangkau dan kreativitas mengajar. Di sinilah kerangka TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) menemukan relevansinya. Guru yang efektif tidak hanya menguasai materi (Content) dan cara mengajar (Pedagogy), tetapi juga terampil memadukannya dengan teknologi (Technology) yang tepat.
Misalnya, menggunakan Prezzi atau Canva untuk presentasi, Genially untuk penilaian formatif, dan Blooket untuk gamifikasi edukatif. Integrasi ini menghasilkan strategi pembelajaran yang lebih kontekstual dan powerful, mengubah guru dari satu-satunya sumber ilmu menjadi fasilitator dan kurator konten digital.
Di sisi siswa, manfaatnya langsung menyentuh pembentukan kompetensi krusial abad 21, yaitu 4C: Critical Thinking, Communication, Collaboration, dan Creativity. Media digital memungkinkan mereka mengakses berbagai perspektif untuk dianalisis (critical thinking), mempresentasikan ide melalui blog atau video (communication), bekerja sama dalam dokumen daring atau proyek virtual (collaboration), serta mencipta produk digital seperti podcast atau infografis (creativity).
Proses ini membuat pembelajaran menjadi aktif dan student-centered, di mana pengetahuan tidak ditelan mentah-mentah, tetapi dikonstruksi melalui interaksi dengan sumber digital dan sejawat.
Lebih dalam lagi, pemanfaatan teknologi yang terencana dapat mendorong Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Kerangka pembelajaran mendalam menekankan pada penguasaan kompetensi seperti berpikir kritis dan kolaborasi, yang selaras dengan 4C.
Media digital, ketika digunakan untuk mendorong investigasi, pemecahan masalah nyata (problem-based learning), dan refleksi, dapat mengangkat pembelajaran dari level menghafal ke level memahami, menganalisis, dan mencipta. Misalnya, memanfaatkan virtual reality untuk menjelajahi situs sejarah atau data real-time untuk proyek membuat pembelajaran lebih autentik dan bermakna.
Oleh karena itu, mengintegrasikan media digital bukan sekadar mengganti buku dengan tablet, tetapi tentang mentransformasi budaya belajar. Ini adalah investasi untuk membekali siswa dengan literasi digital dan keterampilan hidup yang esensial di masa depan.
Tantangannya nyata, mulai dari kesenjangan infrastruktur hingga kesiapan guru. Namun, dengan komitmen untuk berinovasi dalam kerangka TPACK dan fokus pada pencapaian kompetensi mendalam, langkah ini adalah jalan pasti menuju pendidikan yang relevan, menarik, dan memberdayakan untuk menerangi masa depan generasi penerus bangsa.
Penulis adalah Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo…