Pelatihan Jurnalisme Sastrawi Hidupkan Semangat Menulis Siswa SMA Negeri 1 Telaga Biru

fsb.ung.ac.idGorontalo – Upaya meningkatkan kualitas literasi di kalangan pelajar kembali digelorakan melalui program pengabdian masyarakat bertajuk Pelatihan Penulisan Jurnalisme Sastrawi kepada Klub Jurnalistik di SMA Negeri 1 Telaga Biru. Kegiatan yang diketuai olehLa Ode Gusman Nasiru, S.Pd., M.A., ini sukses membuka wawasan baru siswa dalam menulis berita yang lebih bernas, reflektif, dan menggugah emosi pembaca.

Selama ini, jurnalisme sastrawi memang bukan hal baru dalam dunia media massa. Namun bagi sebagian besar siswa yang tergabung dalam klub jurnalistik sekolah, gaya penulisan ini masih terasa asing. Mereka cenderung menulis berita secara konvensional, berfokus pada prinsip 5W+1H tanpa mengembangkan kedalaman cerita dan sentuhan emosional.

Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian menghadirkan pelatihan yang dirancang secara sistematis melalui tiga tahapan utama: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap awal, tim menyusun outline pelatihan yang mencakup durasi, tujuan, serta topik pembahasan. Materi kemudian dikemas dalam bentuk presentasi interaktif berbasis PowerPoint dan Google Slides yang menarik serta mudah dipahami. Tak hanya itu, karya visual pendukung turut dihadirkan untuk memperkaya pemahaman peserta.

Hasilnya pun signifikan. Setelah mengikuti pelatihan, para siswa mulai menunjukkan perubahan dalam gaya menulis mereka. Berita yang dihasilkan tidak lagi sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan sudut pandang yang lebih beragam dan mendalam. Peristiwa yang diangkat menjadi lebih hidup, penuh warna, dan mampu mengajak pembaca untuk merenung serta mengambil pelajaran.

La Ode Gusman Nasiru selaku Ketua Tim Pengabdian menyampaikan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah mendorong siswa berani mengeksplorasi gaya penulisan yang lebih kreatif dan reflektif. “Kami ingin mereka tidak hanya menulis untuk memberi tahu, tetapi juga untuk menyentuh dan menginspirasi,” ujarnya.

Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif dan partisipatif mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kompetensi literasi siswa. Integrasi metode pembelajaran yang interaktif dengan sentuhan kearifan lokal juga dinilai efektif dalam membangun budaya digital yang sehat dan produktif.

Program ini diharapkan tidak berhenti pada satu sekolah saja. Praktik baik yang telah dilakukan berpotensi direplikasi di sekolah lain di Gorontalo, bahkan menjadi model pengabdian masyarakat yang relevan dalam konteks penguatan literasi generasi muda.

Dengan kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi, pelatihan ini menjadi bukti bahwa investasi pada literasi bukan hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membentuk calon jurnalis muda yang kritis, bijaksana, dan berintegritas di masa depan.