fsb.ung.ac.id, Pengabdian – Kemampuan berbicara di depan umum sering kali dianggap sebagai keterampilan yang hanya dibutuhkan oleh pembawa acara, moderator, atau tokoh publik. Padahal, keterampilan public speaking merupakan bekal penting bagi setiap individu sejak usia sekolah. Kemampuan menyampaikan gagasan dengan percaya diri, terstruktur, dan komunikatif akan sangat membantu siswa dalam proses belajar maupun kehidupan sosialnya di masa depan.
Kesadaran inilah yang mendorong mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya, melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di SMP Negeri 2 Suwawa melalui mata kuliah Berbicara Publik yang dibimbing oleh Yunus Dama, S.Pd., M.Pd. Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat untuk memberikan manfaat nyata.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan pelatihan keterampilan membawa acara (master of ceremony), bercerita, hingga menjadi moderator kepada siswa kelas VII. Pilihan materi ini sangat relevan dengan kebutuhan siswa masa kini yang dituntut aktif, komunikatif, dan berani tampil di depan publik.
Menariknya, pelatihan tidak dilakukan secara kaku dan teoritis. Mahasiswa hadir sebagai fasilitator yang membangun suasana belajar menyenangkan dan interaktif. Siswa tidak hanya mendengarkan materi tentang teknik berbicara, penggunaan bahasa yang baik, maupun penguasaan panggung, tetapi juga langsung mempraktikkan kemampuan mereka melalui simulasi sederhana.
Pada sesi pelatihan membawa acara, siswa belajar bagaimana membuka kegiatan, menyampaikan susunan acara, hingga menjaga komunikasi dengan audiens. Bagi sebagian siswa, berdiri di depan teman-temannya mungkin menjadi pengalaman yang menegangkan. Namun, melalui pendampingan yang sabar dan suportif, rasa gugup perlahan berubah menjadi keberanian.
Hal serupa terlihat pada pelatihan bercerita. Mahasiswa mengajarkan teknik membuka cerita, pengaturan intonasi, ekspresi, hingga penggunaan gestur tubuh. Tema cerita rakyat lokal yang diangkat dalam praktik membuat siswa lebih dekat dengan budaya daerahnya sendiri. Dari kegiatan ini terlihat bahwa public speaking bukan sekadar kemampuan berbicara, tetapi juga sarana membangun kreativitas dan kecintaan terhadap budaya.
Sementara itu, pelatihan moderator memberikan pengalaman baru bagi siswa dalam memandu jalannya diskusi atau acara. Mereka belajar bagaimana bersikap netral, mengatur waktu, memperkenalkan pembicara, hingga mengelola suasana forum. Meski beberapa siswa awalnya tampak terbata-bata, latihan dan arahan langsung dari mahasiswa membuat mereka mulai tampil lebih percaya diri.
Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan yang baik bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan keterampilan hidup. Keberanian berbicara di depan umum akan membantu siswa lebih aktif dalam belajar, lebih percaya diri menyampaikan pendapat, dan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar teori berbicara publik, tetapi juga belajar bagaimana menjadi pendidik yang mampu membimbing, memotivasi, dan berinteraksi dengan masyarakat secara langsung.
Antusiasme siswa dan apresiasi dari pihak sekolah menjadi tanda bahwa pelatihan semacam ini sangat dibutuhkan. Public speaking bukanlah kemampuan yang muncul secara instan, melainkan keterampilan yang harus dilatih sejak dini. Semakin sering siswa diberi ruang untuk berbicara, semakin besar pula peluang mereka tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, kritis, dan komunikatif.
Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tidak hanya mengajarkan teknik berbicara, tetapi juga menanamkan keberanian kepada siswa untuk tampil, bersuara, dan percaya pada kemampuan diri mereka sendiri.

#FSBMOLAMAHU