Dosen FSB UNG Teliti Kekerasan Berbasis Gender dalam Cerpen Indonesia, Soroti Upaya Peningkatan Harapan Hidup Perempuan

fsb.ung.ac.idGorontalo – Isu kekerasan berbasis gender kembali menjadi perhatian kalangan akademisi. Tiga peneliti dari Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yakni La Ode Gusman Nasiru, S.Pd., M.A., Dr. Salam, M.Pd., dan Wa Ode Irawati, S.Pd., M.Pd., mengkaji persoalan tersebut melalui karya sastra Indonesia sebagai upaya mendorong peningkatan harapan hidup perempuan.

Penelitian bertajuk “Kekerasan Berbasis Gender dalam Cerita Pendek Indonesia sebagai Upaya Peningkatan Harapan Hidup Perempuan melalui Karya Sastra” ini menganalisis antologi cerpen Kerang Memanggil Angin karya Deasy Tirayoh. Dua cerpen yang menjadi fokus kajian adalah “Mandi Mayah” dan “Kesaksian di Titik Didik” (KTD).

Melalui pendekatan kualitatif berperspektif feminis, tim peneliti membedah berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, baik yang bersifat faktual maupun simbolik. Analisis dilakukan dengan menelaah struktur bahasa, alur cerita, pengalaman tokoh, hingga simbol dan mitos yang terkandung dalam teks.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender dalam kedua cerpen tersebut termanifestasi dalam dua ranah relasi kuasa, yakni ranah domestik dan ranah negara. Dalam “Kesaksian di Titik Didik”, kekerasan hadir melalui relasi kuasa negara yang represif, tergambar dalam konflik perkebunan kelapa sawit yang berujung pada intimidasi terhadap tokoh perempuan, Tina. Sementara itu, “Mandi Mayah” memotret relasi kuasa laki-laki dalam ruang domestik, ketika suami menghukum istri akibat ketidakmampuan memiliki anak dan tingginya angka kematian bayi, yang berakar pada kemiskinan serta budaya patriarkal.

Menurut para peneliti, berbagai bentuk kekerasan tersebut secara kolektif berdampak pada penurunan kualitas hidup dan harapan hidup perempuan. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya potensi perlawanan dan rekonstruksi melalui kearifan lokal. Tradisi mewoinahu dalam KTD serta spiritualitas alam dalam “Mandi Mayah” menunjukkan keberpihakan terhadap perempuan dan membuka peluang membangun kembali harapan hidup dengan melibatkan alam sebagai penyeimbang ketidakadilan sosial.

Penelitian ini menegaskan bahwa karya sastra tidak sekadar menjadi cermin realitas sosial, tetapi juga ruang refleksi dan transformasi. Melalui pembacaan kritis terhadap cerpen Indonesia, para akademisi berharap kesadaran publik terhadap isu kekerasan berbasis gender semakin meningkat, sekaligus mendorong lahirnya kebijakan dan gerakan sosial yang lebih berpihak pada perempuan.