fsb.ung.ac.id, Gorontalo – Upaya menghadirkan pembelajaran yang inklusif bagi semua kalangan terus berkembang di dunia pendidikan. Salah satu inovasi menarik datang dari penelitian yang dilakukan oleh Dr. Riana Diah Sitharesmi, S.Sn., M.A., dosen di Jurusan Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian tersebut mengangkat penggunaan BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) sebagai inspirasi dalam penciptaan koreografi sekaligus media pembelajaran bagi mahasiswa seni.
Penelitian yang berjudul “Koreografi Berbasis BISINDO Kawasan Teluk Tomini sebagai Media Belajar Bahasa Isyarat bagi Mahasiswa Sendratasik Universitas Negeri Gorontalo” ini berangkat dari keprihatinan terhadap kesenjangan komunikasi yang masih dialami oleh komunitas tunarungu. Melalui pendekatan seni pertunjukan, penelitian ini berupaya menjembatani kesenjangan tersebut dengan memanfaatkan bahasa isyarat sebagai sumber ekspresi artistik sekaligus sarana pembelajaran.
Dalam penelitian ini, tubuh manusia dipandang sebagai media utama untuk menyampaikan pesan melalui kode visual atau tanda. Bagi penyandang tunarungu, gerakan tangan, lengan, kepala, dan ekspresi wajah menjadi unsur penting dalam menyampaikan makna. Konsep tersebut kemudian diadaptasi ke dalam proses kreatif penciptaan karya tari yang terinspirasi dari gerak-gerak dalam BISINDO.
Menariknya, penelitian ini tidak hanya berfokus pada penciptaan koreografi, tetapi juga mengintegrasikan media film pendek sebagai sarana pemberdayaan komunitas tunarungu. Dalam prosesnya, tim peneliti bekerja sama dengan remaja tunarungu dari Yayasan Tunarungu Helen Wimberty Gorontalo untuk memproduksi sebuah film pendek independen yang menggunakan BISINDO sebagai bahasa utama dalam dialognya.
Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa seni tidak hanya belajar teknik dasar akting dan tari, tetapi juga memahami cara berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Pendekatan ini mempertemukan dunia seni pertunjukan dengan praktik komunikasi visual yang digunakan oleh komunitas tunarungu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan BISINDO dalam koreografi memiliki kekayaan ekspresi yang tinggi serta kompleksitas linguistik yang menarik untuk dieksplorasi dalam seni tari. Gerakan yang diadaptasi dari bahasa isyarat tidak hanya berfungsi sebagai elemen artistik, tetapi juga sebagai medium komunikasi yang dinamis antara mahasiswa seni dan komunitas disabilitas rungu.
Salah satu karya tari yang lahir dari proses kreatif ini berjudul “Tanda-Tanda Berkata.” Karya tersebut mengangkat BISINDO sebagai “kosakata gerak” yang mampu menyampaikan pesan tentang keberagaman, inklusivitas, dan pentingnya menghargai identitas budaya komunitas tunarungu.
Lebih jauh, penelitian ini juga menyoroti pentingnya studio seni sebagai ruang kolaborasi antara mahasiswa, seniman, dan komunitas disabilitas. Melalui ruang kreatif tersebut, bahasa isyarat tidak hanya dipelajari sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari ekspresi budaya yang dapat memperkaya dunia seni pertunjukan.
Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan pendidikan inklusif, khususnya di bidang seni. Dengan menggabungkan bahasa isyarat, tari, dan media film, mahasiswa tidak hanya memperoleh keterampilan artistik, tetapi juga membangun kesadaran sosial terhadap keberagaman dan inklusivitas.
Ke depan, penggunaan BISINDO dalam berbagai bentuk media, termasuk seni pertunjukan dan film, diharapkan dapat semakin memperkuat upaya pemberdayaan komunitas tunarungu di Indonesia. Melalui pendekatan kreatif seperti ini, para mahasiswa dan generasi muda disabilitas pun berpeluang menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai kemanusiaan melalui karya seni.