Remaja Dulupi Jadi Penjaga Bahasa Lokal, Identitas Budaya Tetap Lestari di Tengah Arus Modernisasi

fsb.ung.ac.id, Penelitian – Di tengah gempuran globalisasi yang kian menguat, eksistensi bahasa lokal sering kali berada di ujung tanduk. Namun, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Witriana Makore dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo menghadirkan kabar optimistis: remaja di Desa Dulupi, Kecamatan Dulupi, Kabupaten Boalemo justru tampil sebagai garda depan dalam menjaga bahasa daerah sebagai identitas budaya.

Penelitian skripsi berjudul “Kontribusi Remaja dalam Pemertahanan Identitas Budaya melalui Bahasa Lokal di Desa Dulupi” ini dibimbing oleh Prof. Dr. Moh Karmin Baruadi, M.Hum., dan Dr. Munkizul Umam Kau, S.Fil.I., M.Phil. Studi ini berangkat dari tiga pertanyaan utama, yakni bagaimana keterlibatan remaja dalam penggunaan bahasa lokal, tantangan yang mereka hadapi, serta sejauh mana bahasa tersebut berfungsi sebagai simbol identitas budaya.

Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggali fenomena sosial secara mendalam melalui deskripsi kehidupan sehari-hari masyarakat. Hasilnya menunjukkan bahwa remaja memiliki peran signifikan dalam mempertahankan bahasa lokal. Mereka aktif menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun dalam interaksi sosial di masyarakat.

Tak hanya sebagai alat komunikasi, bahasa lokal juga hadir dalam berbagai ruang kehidupan, mulai dari kegiatan adat, seni budaya, hingga praktik keagamaan. Hal ini memperkuat posisi bahasa daerah sebagai simbol identitas kolektif yang mengikat masyarakat Dulupi.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Dominasi bahasa Indonesia dan pengaruh bahasa asing terutama melalui media sosial dan pendidikan formal menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan bahasa lokal. Namun, komitmen remaja untuk terus menggunakan bahasa daerah menunjukkan adanya kesadaran budaya yang kuat di kalangan generasi muda.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan bahasa lokal sangat bergantung pada peran aktif generasi muda. Remaja Dulupi tidak hanya menjadi pewaris budaya, tetapi juga agen pelestari yang menjaga identitas budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus melalui program besar, tetapi bisa dimulai dari hal sederhana: menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel selengkpnya dapat dilihat disini