fsb.ung.ac.id, Pengabdian – Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), melaksanakan pelatihan keterampilan Bahasa Gorontalo bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Suwawa. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tugas mata kuliah Keterampilan Bahasa Gorontalo yang dibimbing oleh Yunus Dama, S.Pd., M.Pd.
Pelatihan ini bertujuan melatih kemampuan berbahasa daerah siswa sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya dan sastra lisan Gorontalo melalui berbagai metode pembelajaran interaktif dan kreatif.
Salah satu kegiatan yang dilaksanakan yakni pelatihan puisi tuja’i penyambutan tamu. Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa menggunakan metode bermain peran agar siswa lebih mudah memahami struktur, makna, serta nilai budaya yang terkandung dalam tuja’i sebagai puisi lisan tradisional Gorontalo.
Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai makna tuja’i sebagai bentuk penghormatan kepada tamu dalam tradisi Gorontalo. Selanjutnya, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil dan diberikan skenario penyambutan tamu, seperti kedatangan kepala sekolah maupun tokoh masyarakat. Setiap kelompok kemudian tampil membawakan tuja’i dengan memperhatikan intonasi, pelafalan bahasa daerah, serta gestur yang sesuai.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Siswa yang awalnya tampak malu perlahan mulai percaya diri setelah mencoba memainkan peran sebagai penyambut tamu. Bahkan, beberapa siswa mampu mengembangkan improvisasi lirik tuja’i dengan bimbingan mahasiswa pendamping.
Selain pelatihan tuja’i, mahasiswa juga memberikan pelatihan membaca puisi berbahasa Gorontalo dengan teknik yang baik dan benar. Pada sesi ini, siswa diberikan penjelasan mengenai unsur-unsur penting dalam membaca puisi, seperti intonasi, lafal, jeda, ekspresi wajah, hingga gerakan tubuh yang mendukung makna puisi.
Mahasiswa kemudian mendemonstrasikan pembacaan puisi berbahasa Gorontalo dengan penghayatan yang baik agar siswa dapat melihat secara langsung teknik membaca puisi yang tepat. Setelah itu, siswa diminta tampil secara bergiliran untuk mempraktikkan pembacaan puisi, sementara mahasiswa memberikan arahan dan koreksi terkait pelafalan bahasa daerah maupun ekspresi yang digunakan.
Suasana pelatihan semakin hangat ketika para siswa saling memberikan apresiasi berupa tepuk tangan setelah penampilan teman-temannya. Kegiatan ditutup dengan penampilan tiga siswa terbaik yang dinilai paling mampu menerapkan teknik pembacaan puisi dengan baik.
Pada sesi berikutnya, mahasiswa melatih siswa membawakan lohidu, salah satu puisi lisan tradisional Gorontalo yang biasa digunakan dalam acara adat. Pelatihan dilakukan menggunakan metode drill atau latihan berulang agar siswa mampu menguasai pelafalan, irama, dan penghayatan khas dalam lohidu.
Kegiatan dimulai dengan penjelasan singkat mengenai lohidu, kemudian mahasiswa membacakan contoh dengan intonasi dan ritme yang tepat untuk diikuti siswa secara bersama-sama. Latihan dilakukan secara berulang per baris agar siswa semakin terbiasa dengan pelafalan dan tekanan nada dalam bahasa Gorontalo.
Meski awalnya beberapa siswa mengalami kesulitan mengikuti irama lohidu, melalui latihan berulang dan pendampingan langsung, mereka mulai mampu membawakan lohidu dengan lebih lancar dan percaya diri. Suasana pelatihan pun terasa hidup karena siswa saling menyemangati satu sama lain.
Kegiatan ditutup dengan penampilan individu beberapa siswa yang dianggap paling fasih membawakan lohidu. Melalui pelatihan ini, mahasiswa tidak hanya membantu meningkatkan keterampilan berbahasa Gorontalo siswa, tetapi juga menanamkan rasa bangga terhadap warisan sastra dan budaya daerah.
Mahasiswa dan pihak sekolah berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai upaya pelestarian bahasa daerah sekaligus penguatan karakter generasi muda melalui budaya lokal.

#FSBMOLAMAHU