Oleh: Dr. Herman Didipu, S.Pd., M.Pd.
fsb.ung.ac.id, Opini – Cerita rakyat Lahilote (Piilu le Lahilote) merupakan salah satu kisah lisan yang hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi dalam masyarakat Gorontalo. Lebih dari sekadar kisah cinta antara manusia dan putri kayangan, legenda ini menyimpan gambaran tentang kehidupan sosial, hubungan manusia dengan alam, serta nilai-nilai moral yang membentuk identitas masyarakat Gorontalo sejak masa lampau.
Dalam cerita tersebut, Lahilote digambarkan sebagai seorang pemuda dari keluarga sederhana yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Ia memiliki keinginan kuat untuk merantau demi mengubah nasib keluarganya.
Gambaran ini menunjukkan bahwa tradisi merantau dan semangat bekerja keras telah lama menjadi bagian dari nilai sosial masyarakat Gorontalo. Nasihat ibunya kepada Lahilote agar tidak hanya berkhayal, tetapi bekerja dengan sungguh-sungguh, mencerminkan kuatnya peran keluarga dalam membentuk karakter dan etos kerja generasi muda.
Di sisi lain, kisah Lahilote juga menghadirkan potret ekologis yang kaya tentang alam Gorontalo. Dalam perjalanannya merantau, Lahilote melewati sungai, gunung, sawah, lembah, hingga hutan yang lebat. Alam digambarkan sebagai ruang kehidupan yang menyediakan berbagai sumber daya bagi manusia.
Lahilote membangun pondok dari bahan-bahan alami seperti bambu, kayu, dan daun lontar. Ia juga menanam berbagai tanaman, seperti serai wangi, puring, dan tanaman obat. Gambaran ini menunjukkan bagaimana masyarakat tradisional memanfaatkan alam secara bijaksana dan hidup berdampingan dengan lingkungan.
Cerita ini juga menampilkan lanskap alam yang khas, seperti telaga yang jernih dan subur sebagai tempat tumbuhnya berbagai tanaman sekaligus habitat makhluk hidup. Kehadiran tempat-tempat seperti Danau Limboto dalam alur cerita memperlihatkan kedekatan masyarakat Gorontalo dengan sumber air dan ekosistem sekitarnya.
Bahkan dalam beberapa bagian cerita, berbagai hewan seperti semut, tikus, burung, dan belut membantu Lahilote menyelesaikan tugas-tugas beratnya. Hal ini mencerminkan pandangan kosmologis masyarakat Gorontalo bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan yang saling berkaitan.
Pada bagian akhir cerita, legenda Lahilote juga dikaitkan dengan asal-usul bentang alam lokal. Dikisahkan bahwa ketika Lahilote jatuh dari kayangan, jejak kakinya meninggalkan tanda pada batu di wilayah Pohe dan Kwandang. Kisah semacam ini lazim ditemukan dalam tradisi lisan Nusantara sebagai cara masyarakat menjelaskan fenomena alam di sekitar mereka.
Dengan demikian, cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pewarisan pengetahuan tentang lingkungan serta identitas lokal.
Dari kisah Lahilote, terdapat berbagai nilai kehidupan yang dapat dipetik. Pertama, nilai kerja keras dan keberanian untuk memperbaiki nasib, sebagaimana tercermin dari tekad Lahilote untuk merantau. Kedua, nilai kesetiaan dan ketulusan cinta yang tampak dari perjuangannya mencari sang istri hingga ke kayangan. Ketiga, nilai kesabaran dan pantang menyerah ketika menghadapi berbagai ujian dan tugas berat.
Lebih dari itu, legenda ini juga mengajarkan pentingnya hidup selaras dengan alam serta menghargai bantuan makhluk lain. Nilai-nilai tersebut menjadikan kisah Lahilote bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga sumber pembelajaran moral yang relevan bagi generasi masa kini.
Di tengah perubahan zaman yang cepat, cerita rakyat seperti Lahilote mengingatkan kita bahwa kekuatan manusia tidak hanya terletak pada keberanian dan kerja keras, tetapi juga pada kemampuannya menjaga harmoni dengan alam dan sesama.
Penulis adalah Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo…