Oleh: Dr. Mimy Astuty Pulukadang, S.Pd., M.Sn
fsb.ung.ac.id, Opini – Di tengah arus modernisasi yang semakin kuat, berbagai tradisi lokal tetap bertahan sebagai penanda identitas budaya masyarakat. Salah satunya adalah tradisi Punggoan yang hidup di kalangan masyarakat Jawa Tondano. Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga menjadi ruang spiritual dan sosial yang mempertemukan nilai religius, kebersamaan, serta penghormatan terhadap leluhur.
Punggoan dikenal sebagai kegiatan ziarah kubur bersama yang biasanya dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu oleh masyarakat Jawa Tondano. Dalam praktiknya, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kunjungan ke makam leluhur, tetapi juga dirangkaikan dengan pembacaan Sholawat Jowo, doa bersama, serta tradisi Ambeng, yaitu hidangan yang disiapkan dan dinikmati bersama oleh masyarakat. Rangkaian kegiatan tersebut menciptakan suasana kebersamaan yang sarat makna spiritual dan sosial.
Lebih dari sekadar tradisi keagamaan, Punggoan merepresentasikan nilai gotong royong dan solidaritas yang kuat di tengah masyarakat. Kehadiran Ambeng, misalnya, bukan hanya sebagai makanan, tetapi simbol berbagi rezeki dan kebersamaan. Masyarakat berkumpul, saling bertegur sapa, dan mempererat hubungan sosial yang mungkin jarang terjalin di tengah kesibukan sehari-hari.
Menariknya, Punggoan juga memperlihatkan proses akulturasi budaya yang harmonis. Tradisi ini merupakan perpaduan antara nilai-nilai budaya Jawa dengan lingkungan sosial dan budaya tempat masyarakat Jawa Tondano bermukim. Dari sinilah lahir bentuk praktik budaya yang khas—religius, komunal, dan tetap relevan dengan kehidupan masyarakat setempat.
Namun demikian, di era digital dan modern saat ini, tantangan terbesar bagi tradisi seperti Punggoan adalah keberlanjutannya di generasi muda. Tanpa upaya pelestarian yang serius, tradisi ini berpotensi mengalami pergeseran makna bahkan perlahan menghilang. Oleh karena itu, dokumentasi, kajian akademik, serta pengusulan sebagai Warisan Budaya Takbenda menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi ini.
Pada akhirnya, Punggoan bukan hanya tentang ziarah kubur atau ritual keagamaan semata. Tradisi ini adalah refleksi nilai kehidupan: menghormati masa lalu, menjaga kebersamaan di masa kini, dan mewariskan kearifan budaya kepada generasi yang akan datang. Dalam konteks inilah, Punggoan layak dipandang sebagai kekayaan budaya yang tidak hanya penting bagi masyarakat Jawa Tondano, tetapi juga bagi khazanah budaya Indonesia secara keseluruhan.
Penulis adalah Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Sendratasik Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo)