fsb.ung.ac.id, Opini – Di tengah arus modernitas yang kian deras, ada hal-hal sederhana yang justru menyimpan makna paling dalam. Salah satunya adalah temporan (sebuah loyang kecil berisi beras) yang hidup dalam tradisi masyarakat Jawa Tondano di Desa Reksonegoro, Kabupaten Gorontalo. Sepintas, temporan tampak biasa saja. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan lapisan makna sosial, budaya, dan religius yang begitu kaya.
Menjelang akhir Ramadan, temporan menjadi pemandangan yang nyaris tak terpisahkan dari ruang tamu rumah para sepuh. Ia diletakkan dengan tenang di atas meja, seolah menunggu perjumpaan yang bukan sekadar transaksi, melainkan peristiwa batin. Ketika seseorang datang menunaikan zakat fitrah, amplop berisi zakat diletakkan di dalam beras itu. Sang penerima kemudian melafalkan doa, sebuah momen hening yang menjembatani harapan, keikhlasan, dan rasa syukur.
Di sinilah temporan menemukan maknanya yang lebih dalam. Beras di dalamnya bukan sekadar isi, melainkan simbol: kesucian, kecukupan, kemakmuran, dan doa akan keberkahan hidup. Ia menjadi medium yang menyatukan nilai material dan spiritual dalam satu gerak sederhana. Tradisi ini menunjukkan bahwa memberi tidak hanya soal kewajiban, tetapi juga tentang relasi, tentang bagaimana manusia saling menguatkan dalam ikatan sosial.
Jika dilihat dari perspektif sosial, praktik ini mencerminkan apa yang pernah digagas oleh sosiolog Émile Durkheim tentang solidaritas. Temporan bukan sekadar wadah, melainkan alat pemersatu. Ia menciptakan ruang interaksi yang hangat antara pemberi dan penerima zakat, menumbuhkan empati, kepedulian, serta tanggung jawab sosial. Dalam dunia yang kerap terasa individualistik, tradisi ini justru mengingatkan bahwa kebersamaan masih memiliki tempat yang kuat.
Lebih jauh lagi, temporan juga bisa dibaca sebagai ekspresi seni dan kearifan lokal. Bentuknya yang sederhana justru menjadi kekuatannya. Ia tidak membutuhkan ornamen mewah untuk menyampaikan makna. Dalam kajian budaya, objek seperti ini tidak hanya dinilai dari rupa, tetapi dari nilai yang dikandungnya. Temporan adalah bukti bahwa seni tidak selalu hadir dalam kemegahan, ia bisa hidup dalam keseharian, dalam kebiasaan yang diwariskan lintas generasi.
Sebagai bagian dari identitas masyarakat Jawa Tondano (sebuah komunitas diaspora), temporan juga menjadi simbol ketahanan budaya. Di tengah perubahan zaman, tradisi ini tetap dijaga, seakan menjadi penanda bahwa akar budaya tidak mudah hilang. Ia adalah pengingat bahwa identitas bukan hanya tentang asal-usul, tetapi juga tentang praktik yang terus dihidupi.
Pada akhirnya, temporan mengajarkan kita satu hal penting: bahwa nilai-nilai besar sering kali tersembunyi dalam hal-hal kecil. Ia bukan sekadar wadah zakat, melainkan simbol pertemuan antara budaya, agama, seni, dan solidaritas sosial. Dalam diamnya, temporan berbicara banyakmtentang kebersamaan, tentang harapan, dan tentang manusia yang saling menguatkan satu sama lain.
Penulis adalah Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Sendratasik Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo..