Oleh: Dr. Mimy Astuty Pulukadang, S.Pd., M.Sn
fsb.ung.ac.id, Opini – Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Desa Reksonegoro tetap berdiri sebagai ruang ingatan yang hidup bagi masyarakat Jawa Tondano. Desa ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan lanskap budaya yang merawat nilai, tradisi, dan identitas. Setiap tahun, seminggu setelah Idul Fitri, denyut kehidupan desa ini terasa berbeda. Perayaan bakdo Ketupat hadir bukan hanya sebagai ritual syukur, tetapi juga sebagai panggung kebersamaan yang hangat dan penuh makna.
Di antara ragam tradisi yang hidup, ada satu elemen yang diam-diam menyimpan cerita panjang: jenang Reksonegoro.
Jenang ini bukan sekadar hidangan manis yang disajikan saat Lebaran Ketupat. Ia adalah simbol. Ia adalah ingatan. Ia adalah cara masyarakat Jawa Tondano merawat jati diri mereka. Dalam setiap suapan, tersimpan jejak generasi tentang bagaimana tradisi diwariskan, tentang bagaimana kebersamaan dirayakan.
Secara kasat mata, jenang Reksonegoro tampak sederhana: bertekstur lembut, berwarna kehitaman mengilap, dengan rasa manis legit yang diperkaya kacang tanah. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan filosofi rasa yang mencerminkan preferensi sekaligus karakter masyarakatnya. Warna hitam yang mengilap bukan sekadar estetika, melainkan penanda kesempurnaan standar kualitas yang dijaga lintas generasi.
Yang menarik, proses pembuatannya menuntut kesabaran yang tidak sedikit. Selama 6 hingga 7 jam, adonan harus terus diaduk atau dalam istilah lokal disebut “kayok”. Aktivitas ini bukan sekadar teknik memasak, melainkan praktik budaya yang sarat makna. Ketika jenang belum matang sempurna, warnanya pucat dan daya tahannya lemah. Namun ketika proses dijalani dengan penuh ketelatenan, hasilnya bukan hanya lezat, tetapi juga tahan lama. Di sinilah nilai kehidupan tersirat: bahwa kesabaran dan ketekunan akan menentukan kualitas hasil.
Tak kalah penting adalah cara penyajiannya. Dibungkus dengan daun woka dan diikat di kedua ujungnya, jenang Reksonegoro menghadirkan harmoni antara fungsi dan simbol. Daun woka bukan hanya kemasan alami, tetapi juga alat ukur kualitas. Jenang yang matang sempurna tidak akan mengeluarkan minyak. Sebaliknya, jika minyak merembes keluar, itu menjadi tanda bahwa prosesnya belum tuntas. Sebuah kearifan lokal yang sederhana, namun sarat makna evaluatif.
Jika kita meminjam perspektif Clifford Geertz, budaya adalah jaringan makna yang ditenun manusia dalam kehidupannya. Jenang Reksonegoro adalah salah satu “teks budaya” itu. Ia dapat dibaca melalui prosesnya, dipahami melalui simbolnya, dan dirasakan melalui kebersamaan yang mengiringinya. Dari bahan, teknik kayok, hingga cara membungkus, semuanya merepresentasikan nilai kesabaran, ketelitian, dan keterikatan sosial.
Pada akhirnya, jenang Reksonegoro bukan sekadar makanan tradisional. Ia adalah manifestasi kearifan lokal yang hidup. Ia menjaga hubungan antargenerasi, memperkuat identitas komunitas, dan menjadi penanda bahwa di tengah perubahan zaman, masih ada nilai-nilai yang bertahan dan layak diperjuangkan.
Maka, merawat jenang Reksonegoro sejatinya bukan hanya tentang melestarikan kuliner. Lebih dari itu, ini adalah upaya menjaga ingatan, merawat identitas, dan memastikan bahwa warisan budaya tidak tercerabut dari akarnya.
Penulis adalah Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Sendratasik Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo..