fsb.ung.ac.id, Penelitian – Bahasa memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara masyarakat memahami peristiwa politik. Di balik setiap berita yang dibaca publik, terdapat pilihan kata yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun makna sesuai konteks tertentu. Fenomena inilah yang menjadi fokus penelitian Sri Ratna Ruchban, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Melalui skripsi yang dibimbing oleh Prof. Dr. Supriyadi, M.Pd. sebagai Pembimbing I dan Dr. Salam, S.Pd., M.Pd. sebagai Pembimbing II, Sri Ratna mengkaji makna polisemi dalam pemberitaan politik pada LKBN Antara Biro Gorontalo serta implikasinya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMP dan SMA.
Polisemi merupakan fenomena kebahasaan ketika satu kata memiliki lebih dari satu makna. Dalam dunia jurnalistik, terutama pemberitaan politik, penggunaan kata-kata polisemik menjadi menarik karena maknanya dapat berubah sesuai konteks yang melatarbelakanginya. Penelitian ini berupaya mengungkap bagaimana kata-kata tersebut digunakan dalam berita politik dan bagaimana pembaca memaknai informasi yang disampaikan.
Penelitian dilakukan terhadap 20 naskah berita politik yang diterbitkan oleh LKBN Antara Biro Gorontalo selama periode November 2024 hingga Agustus 2025. Berita-berita tersebut mencakup berbagai isu strategis, seperti Pemungutan Suara Ulang (PSU) Gorontalo Utara, sengketa pilkada, politik uang, evaluasi anggaran hibah, hingga penegakan hukum pemilu.
Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semantik, penelitian ini berhasil mengidentifikasi 78 data polisemi yang tersebar dalam berbagai kelas kata. Temuan menunjukkan bahwa bentuk polisemi paling dominan terdapat pada kelas kata nomina dengan 67 data, diikuti verba sebanyak 9 data, dan adjektiva sebanyak 2 data.
Kata-kata seperti putusan, gugatan, hibah, hak, sidang, bukti, evaluasi, dan anggaran menjadi contoh yang paling sering mengalami perluasan makna dalam pemberitaan politik. Menurut penelitian ini, makna kata-kata tersebut tidak hanya dipahami berdasarkan definisi kamus, tetapi juga memperoleh makna khusus yang berkembang dalam konteks pemilu dan tata kelola pemerintahan.
Sri Ratna menemukan bahwa polisemi dalam berita politik bekerja melalui tiga mekanisme utama, yaitu perluasan makna, spesialisasi makna, dan transferensi makna. Proses ini membuat sebuah kata mampu menjelaskan realitas politik yang kompleks secara lebih ringkas tanpa kehilangan ketepatan informasi.
Lebih jauh, penelitian ini mengungkap bahwa polisemi memiliki tiga fungsi penting dalam pemberitaan politik. Pertama, fungsi kehematan bahasa, yakni memungkinkan jurnalis menyampaikan informasi yang kompleks dengan lebih efisien. Kedua, fungsi persuasif, yaitu membentuk persepsi pembaca secara halus tanpa mengurangi prinsip netralitas media. Ketiga, fungsi edukatif, karena mendorong pembaca memahami berbagai istilah dan konsep yang berkaitan dengan regulasi pemilu, lembaga penyelenggara pemilu, serta dinamika politik yang sedang berlangsung.
Menurut penelitian ini, pemahaman terhadap polisemi menjadi penting di era informasi saat ini. Kemampuan memahami makna kata berdasarkan konteks dapat membantu masyarakat menghindari kesalahpahaman dalam menafsirkan berita, sekaligus meningkatkan literasi media dan literasi bahasa.
Menariknya, hasil penelitian ini juga memiliki relevansi yang kuat dengan dunia pendidikan. Kajian polisemi dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMP dan SMA, khususnya pada materi semantik, makna kata, dan analisis teks berita. Melalui contoh-contoh nyata dari media massa, peserta didik dapat belajar memahami hubungan antara bahasa, konteks, dan makna secara lebih kritis.
Penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa dalam media bukan sekadar alat penyampai informasi, melainkan juga sarana yang membentuk pemahaman publik terhadap realitas sosial dan politik. Dengan memahami polisemi, masyarakat tidak hanya menjadi pembaca yang lebih cermat, tetapi juga lebih kritis dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di ruang publik.
Artikel penelitian selengkpnya dapat dilihat disini
#FSBMOLAMAHU