fsb.ung.ac.id, Penelitian – Lagu tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga sebagai karya sastra yang sarat makna dan keindahan bahasa. Melalui rangkaian lirik yang puitis, musisi dapat menyampaikan emosi, pengalaman hidup, hingga kritik sosial secara mendalam. Fenomena inilah yang menjadi fokus penelitian Puput Novel Pakaya, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dalam kajiannya terhadap album Untuk Dunia, Cinta, dan Kotornya karya penyanyi dan penulis lagu Indonesia, Nadin Amizah.
Penelitian yang dibimbing oleh Dr. Ellyana Hinta, M.Hum. sebagai Pembimbing I dan Dr. Sitti Rachmi Masie, M.Pd. sebagai Pembimbing II ini menggunakan pendekatan stilistika untuk mengungkap berbagai gaya bahasa kiasan yang membangun kekuatan estetik dalam lirik-lirik lagu pada album tersebut.
Menurut Puput, lirik lagu memiliki kedudukan yang tidak jauh berbeda dengan puisi karena sama-sama memanfaatkan pilihan kata, simbol, dan majas untuk menyampaikan pesan secara artistik. Oleh karena itu, analisis stilistika menjadi penting untuk memahami bagaimana bahasa digunakan sebagai sarana ekspresi dalam karya musik.
Melalui metode deskriptif kualitatif, penelitian ini menganalisis lirik-lirik dalam album Untuk Dunia, Cinta, dan Kotornya. Data dikumpulkan melalui proses membaca, memahami, mengidentifikasi, dan mengelompokkan berbagai bentuk gaya bahasa yang muncul dalam setiap lagu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa album tersebut kaya akan penggunaan gaya bahasa kiasan yang memperkuat nilai estetika dan kedalaman makna lirik. Setidaknya ditemukan tujuh jenis gaya bahasa, yaitu metafora, simile (persamaan), personifikasi, alusi, antonomasia, sarkasme, dan inuendo. Dari keseluruhan analisis, terdapat 28 kutipan lirik yang mengandung penggunaan gaya bahasa tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa Nadin Amizah tidak sekadar menulis lirik secara literal, melainkan membangun dunia makna melalui berbagai simbol dan ungkapan figuratif. Penggunaan metafora dan personifikasi, misalnya, memungkinkan pengalaman emosional yang kompleks diterjemahkan menjadi ungkapan yang lebih imajinatif dan menyentuh pendengar.
Penelitian ini juga mengungkap bahwa setiap gaya bahasa yang digunakan memiliki fungsi makna yang berbeda. Beberapa lirik digunakan untuk menggambarkan perasaan cinta, kehilangan, kerentanan, dan pergulatan batin, sementara yang lain menjadi sarana refleksi terhadap realitas kehidupan yang tidak selalu sempurna.
Menurut Puput, kekuatan utama album ini terletak pada kemampuannya mengolah bahasa menjadi medium yang tidak hanya indah secara artistik, tetapi juga kaya akan interpretasi. Pendengar tidak hanya menikmati melodi, tetapi juga diajak menafsirkan pesan-pesan yang tersirat di balik setiap bait lagu.
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa karya musik populer dapat menjadi objek kajian akademik yang relevan dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Analisis gaya bahasa dalam lirik lagu dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar yang menarik untuk meningkatkan apresiasi sastra, memperkaya kosakata, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam memahami makna teks.
Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa sastra tidak hanya hadir dalam buku atau puisi tertulis, tetapi juga hidup dalam karya-karya musik yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Melalui lirik-liriknya, album Untuk Dunia, Cinta, dan Kotornya menunjukkan bagaimana bahasa dapat menjadi jembatan antara seni, emosi, dan pengalaman manusia.
Artikel penelitian selengkpnya dapat dilihat disini
#FSBMOLAMAHU