fsb.ung.ac.id, Penelitian – Kemiskinan sering kali dipahami sebatas keterbatasan ekonomi. Namun, penelitian terbaru dari mahasiswa Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan bahwa kemiskinan memiliki dimensi yang jauh lebih kompleks. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Salsabila Talaa, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang mengkaji novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye.
Melalui pendekatan deskriptif kualitatif dan analisis isi, penelitian ini menelusuri bagaimana kemiskinan direpresentasikan dalam novel berdasarkan teori kemiskinan multidimensi yang dikemukakan oleh Robert Chambers. Hasilnya menunjukkan bahwa kemiskinan dalam karya sastra tersebut tidak hanya berkaitan dengan kekurangan materi, tetapi juga menyentuh aspek sosial, fisik, dan psikologis masyarakat.
Salsabila menemukan bahwa novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar menggambarkan lima dimensi kemiskinan sekaligus, yaitu kemiskinan material, kelemahan jasmani, keterisolasian, kerentanan menghadapi situasi darurat, dan ketidakberdayaan. Berbagai dimensi tersebut hadir melalui perjalanan hidup tokoh-tokohnya yang harus menghadapi ketimpangan sosial dan tekanan kehidupan yang tidak mudah.
Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah keterkaitan antara kemiskinan dan eksploitasi lingkungan. Novel menggambarkan bagaimana aktivitas pertambangan berdampak pada kehidupan masyarakat lokal, memperburuk kondisi ekonomi mereka, sekaligus menciptakan ketidakadilan sosial yang semakin dalam. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kemiskinan sering kali lahir dari persoalan struktural yang melibatkan relasi kuasa dan pengelolaan sumber daya alam.
Menurut penelitian ini, Tere Liye tidak hanya menghadirkan cerita tentang kehidupan masyarakat kecil, tetapi juga menyampaikan kritik sosial terhadap berbagai bentuk ketimpangan yang masih terjadi di tengah masyarakat. Melalui alur cerita dan konflik yang dibangun, pembaca diajak melihat bahwa kemiskinan merupakan persoalan multidimensi yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan ekonomi semata.
Penelitian yang dibimbing oleh Dr. Sitti Rachmi Masie, S.Pd., M.Pd., dan Ayu Hidayanti Ali, S.Pd., M.Pd., ini juga menegaskan bahwa karya sastra memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Novel dapat menjadi ruang refleksi sosial yang membantu masyarakat memahami realitas kehidupan kelompok-kelompok yang terpinggirkan serta berbagai persoalan yang melatarbelakanginya.
Lebih dari itu, hasil penelitian ini dinilai memiliki nilai praktis dalam dunia pendidikan. Temuan mengenai representasi kemiskinan dalam sastra dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar yang mendorong siswa untuk lebih peka terhadap isu-isu sosial, lingkungan, dan kemanusiaan. Melalui pembelajaran sastra, peserta didik tidak hanya mengembangkan kemampuan berbahasa, tetapi juga membangun empati dan kesadaran kritis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa sastra mampu menjadi jendela untuk memahami realitas sosial secara lebih mendalam. Melalui novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar, pembaca diajak menyadari bahwa kemiskinan bukan sekadar persoalan kurangnya pendapatan, melainkan juga berkaitan dengan akses, kesempatan, keadilan, dan hak hidup yang layak bagi setiap warga masyarakat. Dengan demikian, karya sastra hadir sebagai medium penting untuk menyuarakan persoalan kemanusiaan dan mendorong lahirnya kesadaran sosial yang lebih luas.
Artikel penelitian selengkpnya dapat dilihat disini
#FSBMOLAMAHU