Ketika Kata Menjadi Senjata Politik: Studi Mahasiswa UNG tentang Disfemia dalam Debat Capres 2024

fsb.ung.ac.idPenelitian – Debat calon presiden tidak hanya menjadi arena adu gagasan dan program kerja, tetapi juga ruang yang memperlihatkan bagaimana bahasa digunakan untuk memengaruhi opini publik. Fenomena ini menjadi fokus penelitian Diyanti T. Niyode, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yang mengkaji penggunaan disfemia dalam debat calon presiden pada Pemilu 2024.

Penelitian yang dibimbing oleh Prof. Dr. Sayama Malabar, M.Pd., dan Prof. Dr. Asna Ntelu, M.Hum., ini mengungkap bahwa pilihan kata dalam debat politik tidak sekadar berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi strategi retoris untuk memperkuat argumen, membangun citra, hingga melemahkan posisi lawan.

Disfemia merupakan penggunaan kata atau ungkapan yang bernilai lebih kasar, tajam, atau negatif dibandingkan bentuk yang lebih netral. Dalam dunia politik, disfemia kerap digunakan untuk menegaskan kritik, menunjukkan ketidaksetujuan, atau membangun persepsi tertentu terhadap pihak lain.

Melalui metode deskriptif kualitatif, Diyanti menganalisis tuturan para kandidat presiden selama rangkaian debat Pemilu 2024. Data diperoleh melalui dokumentasi, teknik simak, dan pencatatan terhadap kata, frasa, maupun kalimat yang mengandung unsur disfemia.

Hasil penelitian menemukan sedikitnya 116 penggunaan disfemia dalam debat tersebut. Temuan itu terdiri atas 46 bentuk kata, 41 bentuk frasa, dan 29 bentuk kalimat. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahasa bernuansa tajam masih menjadi bagian penting dalam dinamika komunikasi politik modern.

Lebih lanjut, penelitian ini mengidentifikasi enam makna utama yang terkandung dalam disfemia yang digunakan para kandidat, yaitu untuk merendahkan, menyindir, meremehkan, mengkritik, menuduh, dan memojokkan lawan debat. Penggunaan berbagai bentuk disfemia tersebut memperlihatkan bagaimana bahasa dapat menjadi alat persuasi yang kuat dalam membangun posisi argumentasi di hadapan publik.

Menariknya, penelitian ini tidak hanya memberikan gambaran tentang praktik bahasa dalam dunia politik, tetapi juga menawarkan manfaat bagi dunia pendidikan. Menurut Diyanti, hasil penelitian ini memiliki relevansi yang kuat dengan pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada materi teks debat di tingkat SMP dan SMA.

Analisis disfemia dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran kontekstual untuk membantu siswa memahami penggunaan bahasa dalam situasi nyata. Melalui contoh-contoh dari debat politik, peserta didik dapat belajar membangun argumentasi yang logis, memahami etika berkomunikasi, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan bahasa yang santun dalam menyampaikan kritik maupun pendapat.

Penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga instrumen yang mampu membentuk persepsi, memengaruhi emosi, dan mengarahkan opini publik. Di tengah maraknya komunikasi politik yang disaksikan masyarakat secara luas, kemampuan memahami strategi kebahasaan menjadi keterampilan penting bagi generasi muda.

Melalui kajian ini, Diyanti T. Niyode menegaskan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia dapat menjadi sarana untuk membangun literasi kritis masyarakat. Dengan memahami bagaimana bahasa digunakan dalam ruang publik, siswa tidak hanya menjadi penutur yang baik, tetapi juga warga yang lebih cerdas dalam menyikapi berbagai informasi dan wacana politik yang berkembang di era demokrasi modern.

Artikel penelitian selengkpnya dapat dilihat disini

#FSBMOLAMAHU