Mengurai Simbol Budaya dalam Puisi Lisan Moyosingog’ pada Tradisi Oya’ Bolaang Mongondow

fsb.ung.ac.idPenelitian – Tradisi lisan tidak sekadar rangkaian kata, tetapi juga menyimpan jejak nilai, norma, dan identitas budaya suatu masyarakat. Hal inilah yang diungkap dalam penelitian Dewi Safitry Labuang melalui skripsi berjudul “Konkretisasi Makna Puisi Lisan Moyosingog’ pada Upacara Adat Oya’ Suku Bolaang Mongondow.”

Penelitian yang dibimbing oleh Prof.Dr. Ellyana Hinta, M.Hum dan Zilfa A. Bagtayan, S.Pd, M.A ini mengupas secara mendalam makna simbolik yang terkandung dalam salah satu tradisi adat penting masyarakat Bolaang Mongondow.

Puisi lisan Moyosingog’ merupakan bagian integral dalam prosesi adat Oya’, yakni ritual yang berkaitan dengan perkawinan, khususnya pemberian adat kepada ibu dari calon pengantin perempuan. Dalam tradisi ini, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium penyampai nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Penelitian ini berfokus pada dua aspek utama, yaitu simbol verbal dan simbol nonverbal yang terkandung dalam puisi lisan Moyosingog’. Simbol verbal merujuk pada kata, frasa, dan kalimat dalam teks puisi yang menggambarkan ungkapan budaya masyarakat Bolaang Mongondow. Sementara itu, simbol nonverbal hadir dalam bentuk benda-benda adat yang memiliki makna khusus dalam prosesi tersebut.

Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini dilaksanakan di Desa Motabang, Kabupaten Bolaang Mongondow. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk memahami secara mendalam struktur makna yang terbentuk dalam praktik budaya tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan puisi lisan Moyosingog’, terdapat dua penutur utama yang mewakili pihak perempuan dan laki-laki. Selain itu, ditemukan tiga unsur adat penting yang selalu disebutkan dalam puisi, yaitu Guman, Guat, dan Gama. Ketiganya menjadi penanda nilai-nilai adat yang dijunjung tinggi dalam prosesi perkawinan.

Lebih lanjut, penelitian ini mengidentifikasi sebanyak 18 simbol verbal dan 5 simbol nonverbal dalam puisi lisan Moyosingog’. Setiap simbol memiliki makna denotatif dan konotatif, yang tidak hanya menjelaskan arti secara harfiah, tetapi juga mengandung pesan filosofis dan sosial yang mendalam.

Kesimpulannya, puisi lisan Moyosingog’ bukan sekadar tradisi tutur, melainkan representasi kompleks dari sistem budaya masyarakat Bolaang Mongondow. Simbol verbal hadir dalam bentuk teks puisi adat yang dibacakan secara berurutan dalam prosesi, sedangkan simbol nonverbal berupa benda-benda adat berfungsi sebagai penanda sahnya pelaksanaan ritual.

Penelitian ini menegaskan bahwa pelestarian tradisi lisan seperti Moyosingog’ sangat penting, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang merekam nilai-nilai kehidupan masyarakat lokal di tengah arus modernisasi.

Artikel selengkpnya dapat dilihat disini