fsb.ung.ac.id, Opini – Ada dua rekaman yang secara tidak sengaja, menjadi semacam cermin zaman. Yang pertama berdurasi beberapa menit, lahir dari percakapan ringan seorang kreator media sosial di Indonesia; yang kedua merupakan penyelesaian sebuah demo kaset lusuh dari tahun 1970-an milik seorang musisi yang telah lama tiada. Keduanya melibatkan kecerdasan buatan. Keduanya mendapat perhatian dunia. Namun cara mereka berdialog dengan teknologi itu berbeda sedalam langit dan bumi.
Di sinilah pertanyaan yang sesungguhnya dimulai: bukan sekadar apa yang dapat dilakukan AI dalam musik, melainkan bagaimana manusia memilih untuk menggunakannya, dan apa yang pilihan itu katakan tentang kita.
I. “Veronika” dan Logika Viral Musik Generatif
Pada awal 2026, sebuah lagu berjudul “Veronika” karya Verry Klau menjadi salah satu fenomena viral terbesar dalam lanskap musik digital Indonesia. Lagu itu tidak lahir dari proses rekaman studio yang panjang, bukan pula dari tangan seorang produser berpengalaman. Ia lahir dari sebuah ide percakapan sederhana yang diolah melalui platform Suno AI, sebuah sistem musik generatif berbasis teks yang dapat menghasilkan lagu lengkap hanya dari beberapa baris deskripsi atau lirik.
Suno AI diluncurkan secara publik pada Desember 2023 oleh Suno, Inc., sebuah perusahaan rintisan yang berbasis di Cambridge, Massachusetts. 1 Platform ini beroperasi berdasarkan pendekatan text-to-music: pengguna memasukkan deskripsi singkat atau lirik, dan sistem akan menghasilkan komposisi lengkap dengan melodi, harmoni, dan karakter vokal secara otomatis. Tidak diperlukan pengetahuan teori musik, tidak diperlukan alat instrumen, dan tidak diperlukan studio rekaman.
Kemudahan inilah yang dalam wacana teknologi musik sering disebut sebagai “demokratisasi produksi musik.” Argumennya sederhana: siapa pun, di mana pun, kini dapat membuat lagu. Namun para akademisi mulai mendekati klaim ini dengan lebih kritis. Sebuah makalah yang dipresentasikan dalam konferensi internasional bertanya dengan lantang: apakah sesungguhnya semua orang kini bisa menjadi musisi, ataukah yang berubah hanyalah definisi “bermusik” itu sendiri?
Pertanyaan itu relevan karena Suno tidak menggunakan proses komposisi konvensional. Ia tidak menulis melodi, tidak memilih akord, tidak merasakan nuansa emosional sebuah kata. Sebaliknya, ia menghasilkan musik berdasarkan pola-pola statistik yang dipelajari dari jutaan rekaman sebelumnya. 2 Ketiadaan “seniman sejati” (dalam terminologi akademik, auteur) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas karya memunculkan pertanyaan pelik mengenai keotentikan dan kepemilikan artistik.
Fenomena “Veronika” memperlihatkan satu sisi dari pertanyaan itu: ketika kreativitas manusia berupa ide dan empati emosional bertemu dengan kapasitas generatif AI, hasilnya dapat melampaui ekspektasi siapa pun, termasuk penciptanya sendiri. Potongan melodinya tersebar di berbagai platform, digunakan ulang oleh ribuan kreator konten, bahkan membawa penciptanya masuk ke layar televisi nasional.
“Veronika” bukan lagu terbaik yang pernah ada. Tetapi ia menunjukkan bahwa pintu penciptaan kini terbuka lebar, dan pertanyaannya bukan lagi siapa yang boleh masuk, melainkan apa yang akan kita bawa ke dalam.
Namun di balik euforia itu, penelitian terkini juga mencatat risiko lain. Analisis terhadap lebih dari 81.000 lagu yang dihasilkan pengguna Suno dan platform sejenis dalam periode Mei hingga Oktober 2024 menemukan pola yang menarik: musik yang lahir dari platform generatif cenderung homogen, berputar di sekitar topik dan genre yang sama, mengikuti kecenderungan algoritmik popularitas ketimbang ekspresi personal yang mendalam.
3 Dengan kata lain, demokratisasi produksi belum tentu berarti demokratisasi ekspresi yang sesungguhnya. Banjir karya dapat dengan mudah berubah menjadi seragam jika semua kreator menggunakan model yang sama dengan nilai-nilai estetika yang tertanam serupa.
II. “Now and Then” dan AI sebagai Jembatan Memori
Di sisi yang berlawanan dari spektrum penggunaan AI dalam musik, The Beatles merilis “Now and Then” pada November 2023, sebuah lagu yang segera disebut banyak orang sebagai “lagu terakhir The Beatles.” Lagu ini memenangkan Grammy Awards 2025 dalam kategori Best Rock Performance, sebuah pengakuan yang semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu momen paling signifikan dalam sejarah musik kontemporer.
Kisah di baliknya dimulai dari sebuah kaset rekaman rumahan John Lennon dari akhir 1970-an. Suara Lennon menyatu dengan dentingan piano rumahan, desis kebisingan latar, dan bahkan suara televisi yang menyala di ruangan yang sama. Ketika pada 1994 Yoko Ono menyerahkan rekaman itu kepada anggota Beatles yang tersisa, mereka mencoba mengerjakannya untuk proyek Anthology, tetapi terpaksa menyerah. Teknologi saat itu tidak mampu memisahkan suara Lennon dari lapisan suara yang menyertainya.
Titik baliknya datang dari film dokumenter Get Back (2021) karya Peter Jackson. Dalam proses produksi dokumenter itu, tim WingNut Films mengembangkan sistem yang mereka sebut MAL (Machine Assisted Learning), sebuah perangkat lunak berbasis machine learning yang mampu mengenali dan memisahkan komponen audio individual dari rekaman campuran.4 Sistem ini dilatih untuk mengenali karakteristik akustik suara Lennon secara spesifik, kemudian mengekstraknya dari kebisingan latar.
“Kami mengembangkan teknologi yang memungkinkan kami mengambil soundtrack apa pun dan memisahkan semua komponennya menjadi track terpisah berdasarkan machine learning,” jelas Jackson.5 Hasilnya luar biasa: suara Lennon dapat diisolasi dengan jernih, memungkinkan Paul McCartney dan Ringo Starr merekam ulang bagian mereka, serta memasukkan rekaman gitar George Harrison dari sesi 1990-an yang sempat diabaikan.
Dalam konteks ini, AI tidak menciptakan karya. Ia menyelamatkan karya yang hampir hilang. Perannya lebih dekat pada seorang konservator lukisan yang dengan ketelitian tinggi membersihkan lapisan-lapisan kotoran dari sebuah mahakarya, sehingga cahaya aslinya kembali terlihat.
Ini adalah distingsi yang penting secara akademis. Para peneliti bidang musik dan teknologi mengingatkan bahwa pertanyaan tentang AI dalam seni sering kali terjebak pada debat yang salah sasaran.6 Yang lebih relevan bukan apakah AI terlibat, melainkan bagaimana dan untuk tujuan apa. “Now and Then” menjawab pertanyaan itu dengan cara yang sangat manusiawi: untuk menyelesaikan sebuah janji artistik yang sempat terputus oleh kematian.
III. Dua Wajah, Satu Pertanyaan yang Sama
Jika “Veronika” merepresentasikan AI sebagai mesin produksi budaya populer yang cepat, instan, dan akrab dengan logika viral media sosial, maka “Now and Then” merepresentasikan AI sebagai teknologi pelestarian dan penghubung lintas generasi. Keduanya sah. Keduanya penting. Dan keduanya menyingkapkan hal yang sama: AI tidak menggantikan kreativitas manusia. Ia memperluas ruang di mana kreativitas itu dapat beroperasi.
Namun “memperluas ruang” bukan berarti tanpa konsekuensi. Para ahli etnomusikologi mulai mencatat bahwa sistem AI musik generatif memiliki kecenderungan untuk mengabsorbsi elemen-elemen dari tradisi musik yang beragam tanpa memahami konteks sosial dan historisnya. Sebuah kajian dalam Ethnomusicology Forum (2025) menggunakan istilah “deeptaking” untuk menggambarkan fenomena ini: ekstraksi estetis dari tradisi budaya tanpa keterlibatan atau penghormatan yang sesungguhnya terhadap tradisi tersebut.
7 Dalam perspektif ini, pertanyaan bukan hanya tentang kreativitas, tetapi juga tentang keadilan budaya. Siapa yang menanggung biaya “demokratisasi” musik ketika model AI dilatih atas jutaan karya tanpa izin atau kompensasi kepada penciptanya?
Di sisi lain, penelitian tentang kolaborasi manusia dan AI dalam musik menunjukkan gambaran yang lebih nuansir. Sebuah studi etnografis yang diterbitkan dalam Journal of Popular Music menemukan bahwa komposer yang mengadopsi alat AI tidak serta-merta kehilangan otonomi kreatifnya. Sebaliknya, banyak yang menemukan cara baru untuk mengeksplorasi ide dan memperluas palet bunyi mereka, sementara keputusan artistik yang paling fundamental tetap berada di tangan manusia.
8 Ini sejalan dengan argumen yang semakin menguat dalam literatur human-AI co-creativity: kreativitas terbaik muncul bukan ketika AI menggantikan manusia, melainkan ketika keduanya beroperasi sebagai mitra kolaboratif yang saling melengkapi.
Nilai sebuah karya tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, melainkan seberapa manusiawi gagasan yang dibawanya.
IV. Yang Mulai Langka Bukan Musik, Melainkan Keberanian
Pada akhirnya, baik “Veronika” maupun “Now and Then” mengingatkan kita bahwa teknologi adalah cermin. Ia memantulkan niat dan nilai dari mereka yang menggunakannya.
Ketika seseorang menggunakan AI untuk menyelesaikan karya yang tertunda selama puluhan tahun karena kematian seorang kawan, itu adalah tindakan kesetiaan artistik dan penghormatan terhadap memori. Ketika seseorang menggunakan AI untuk mengubah sebuah ide percakapan menjadi lagu yang menyentuh jutaan orang, itu adalah demokratisasi ekspresi dalam bentuknya yang paling nyata.
Tetapi ketika AI digunakan semata-mata untuk menghasilkan konten sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya demi mengejar algoritma platform, pertanyaan yang lebih dalam mesti diajukan: apakah kita sedang menciptakan, ataukah sekadar mengisi ruang?
Ini bukan pertanyaan tentang teknologi. Ini pertanyaan tentang siapa kita sebagai pelaku budaya.
Di era ketika lagu dapat dibuat dalam hitungan detik, yang sesungguhnya mulai langka bukan musik itu sendiri. Yang mulai langka adalah keberanian untuk menghadirkan gagasan yang benar-benar personal, yang lahir dari pengalaman hidup yang tak dapat direplikasi oleh algoritma mana pun. Keberanian untuk bercerita tentang duka yang spesifik, tentang kegembiraan yang lokal, tentang ingatan yang hanya bermakna bagi segelintir orang yang pernah ada di tempat yang sama pada waktu yang sama.
AI mampu menghasilkan musik yang terdengar seperti musik. Namun ia belum mampu menghasilkan pengalaman hidup yang melahirkan musik itu.
Dan mungkin itulah kabar baiknya: ruang yang paling esensial dalam penciptaan seni masih milik manusia sepenuhnya.
Catatan
- Suno, Inc., “Suno: Make a Song About Anything,” suno.com, diakses Mei 2024. Lihat juga: Wikipedia, “Suno (platform),” en.wikipedia.org, diakses Juni 2025.
- Andruw Sørensen et al., “Are We All Musicians Now? Authenticity, Musicianship, and AI Music Generator Suno,” ResearchGate, Desember 2024. Makalah ini menganalisis bagaimana ketiadaan auteur konvensional dalam produksi Suno memunculkan pertanyaan mendasar tentang keotentikan karya.
- Elio Quinton et al., “Data-Driven Analysis of Text-Conditioned AI-Generated Music: A Case Study with Suno and Udio,” arXiv:2509.11824 (2025). Studi ini menganalisis 100.000 lagu yang dihasilkan pengguna kedua platform dalam periode Mei-Oktober 2024.
- Adam Behr, “Now and Then: enabled by AI – created by profound connections between the four Beatles,” The Conversation, 3 November 2023. Lihat juga: TechCrunch, “Don’t be afraid of the AI-assisted Beatles song Now and Then,” 2 November 2023.
- Peter Jackson, dikutip dalam dokumenter pendek “Now and Then: The Last Beatles Song” (2023), dir. Oliver Murray. Transkripsi dari TVBEurope, “Watch: Peter Jackson discusses the machine learning technology behind Now and Then,” November 2023.
- Bob L. Sturm et al., “The First International Conference in AI Music Studies 2024: Call for Papers,” boblsturm.github.io/aimusicstudies2024/. Konferensi ini secara khusus mengidentifikasi gap dalam kajian kritis humaniora terhadap ekosistem musik AI.
- Kristina Kelman et al., “From deepfaking to deeptaking: cultural appropriation in AI music,” Ethnomusicology Forum 34, no. 2 (2025). Artikel ini memperkenalkan konsep “deeptaking” sebagai kritik terhadap apropriasi budaya dalam pelatihan model AI musik.
- Michael Terren, “Recurring patterns: An ethnographic study on the adoption of AI music tools by practitioners of electroacoustic, contemporary and popular musics,” Journal of Popular Music Studies, Intellect (2023). Studi etnografis berbasis wawancara dengan lima komposer aktif.
Penulis: Wahyudin Radjak, S.Pd, M.Pd (Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo).
#FSBMOLAMAHU