Pentingnya Nutrisi Intelektual (Refleksi di Hari Buku Nasional 17 Mei), Oleh: Argariawan Tamsil

fsb.ung.ac.idOpini – Mari sejenak mengamati di sekeliling kita hari ini, lalu mulai menghitung. Ada berapakah toko buku yang tersedia di kota kita hari ini? Setelah itu, mari kita melihat seramai apa pengunjung dalam setiap harinya? Atau, mari kita jalan-jalan ke perpustakaan yang ada di daerah kita, dan melihat kenyataan bahwa seramai apa pengunjungnya dibandingkan dengan tempat lainnya?

Atau mari kita cek marketplace kita masing-masing dan mulai berhitung, ada berapakah buku yang sudah kita order dalam beberapa bulan terakhir ini? Ada berapakah calon buku yang sudah masuk ke dalam keranjang kita? Fenomena ini menarik, sebab toko buku dan perpustakaan adalah dua tempat yang saya sebut sebagai warung intelektual. Tempat di mana pikiran kita menemukan makanannya.

Perut yang lapar sangat mudah memberikan notifikasi terhadap diri untuk melangkahkan kaki menuju warung makan, berbeda halnya dengan pikiran. Ketika ia lapar, maka hanya dengan kesadaran dirilah ia bisa memberikan sinyalnya bahwa ia butuh untuk diberikan nutrisinya.

Socrates sudah menyadarkan tentang hal ini 24 abad yang lalu ketika ia mengatakan “sesungguhnya saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa”, kalimat bijaksana ini diabadikan Plato dalam karyanya Apologia. Kunci dari kesadaran mengenai ketidaktahuan adalah dengan menyadari terlebih dahulu bahwa kita tidak tahu. Dengan begitu, maka getaran rasa lapar akan nutrisi keilmuan sudah mulai terasa.

Keberuntungan kita hari ini adalah hidup dengan fasilitas teknologi yang memadai, tentu segala sumber ilmu pengetahuan bisa dengan mudah untuk didapatkan. Tidak hanya terbatas pada bacaan buku fisik semata melainkan juga dalam bentuk digital. Dengan dukungan kemampuan jaringan internet 5G hari ini secara logika seharusnya manusia zaman modern adalah generasi paling gemuk secara intelektual.

Namun, di tengah kelimpahan itu semua, ada sesuatu yang perlahan hilang secara substansial, yaitu gairah untuk menghidupkan tradisi membaca, menjadikan buku (bacaan) sebagai kebutuhan, serta kesediaan untuk merenungi makna yang telah didapatkannya.

Jika dalam dunia makanan ada yang disebut junk food dan fast food, dalam hal ilmu pengetahuan pun kita mengalami fenomena yang hampir serupa. Manusia terbiasa mengonsumsi informasi cepat saji, instan, dan singkat. Akibatnya kedalaman membaca menjadi bias. Otak secara terus menerus dimanjakan oleh informasi cepat saji, maka alhasil ketahanan berpikir secara runtut, logis, dan berpikir mendalam semakin terasa sulit dan hal ini sangat berpengaruh pada neuroplastisitas otak.

Dalam bahasa neurosains, neurotransmitter sebagai aktor penting yang menyampaikan pikiran ke seluruh jaringan syaraf akan melemah. Cabang-cabang dendrit sebagai penerima impuls listrik bisa kurang aktif koneksinya. Baru-baru ini, penelitian yang dilakukan oleh MIT (Massachusetts Institute of Technology) Media Lab secara singkat menjelaskan bagaimana otak manusia mengalami kemunduran keterlibatan kognitif ketika terlalu menggantungkan pada sajian teknologi yang instan dalam proses berpikir dan menulis.

Penelitian ini menggunakan teknologi pemindaian otak terhadap para mahasiswa yang telah dibagi menjadi beberapa kelompok saat menulis essai. Secara singkat, hasil dari kelompok yang menggantungkan dirinya pada 100 persen AI memiliki aktivitas kognitif yang rendah dibandingkan kelompok yang terbiasa menyusun tulisan secara mandiri.

Temuan ini tidak dalam koridor menolak teknologi secara mutlak, tetapi menyadarkan akan pentingnya menyesuaikan dan menyelaraskan setiap kebutuhan kita agar otak sebagai komponen penting tidak kehilangan daya latihnya.

Pada titik inilah, buku (terutama bentuk fisik) masih menemukan relevansinya. Buku tidak hadir menyajikan informasi instan yang bisa selesai dalam hitungan detik. Di dalamnya ada latihan berpikir secara runtut, logis, kritis, sistematis serta mendalam. Dengan membaca buku, kita dilatih tentang arti kesabaran, ketahanan mata (dari rasa ngantuk), kefokusan dalam melihat alur gagasan utuh, berdialektika, dan lain-lain.

Dalam proses inilah, peran otak sedang dilatih untuk membangun ketahanan berpikirnya dan memperkuat refleksi. Pada akhirnya, buku bukan hanya membuka jendela dunia tetapi juga membuka jendela kebijaksanaan dari kemampuan merefleksikan hasil bacaan yang telah kita terima.

Selamat hari buku nasional 17 Mei. Semoga kita semua selalu menjadikan buku sebagai asupan nutrisi terbaik untuk mengembangkan intelektual kita. Aamiin…

Penulis adalah Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo

#FSBMOLAMAHU