Tinjauan Deksis Atas Lagu Indonesia Raya: Dekatkah Kita dengan Tanah Air Kita, Indonesia?

Oleh: Dr. Adriansyah Abu Katili, S.S., M.Pd

fsb.ung.ac.idOpini – Lagu kebangsaan adalah lagu yang sangat sakral bagi bangsa Indonesia. Lagu itu kita nyanyikan pada upacara saat penaikan bendera Merah Putih. Lagu itu berisi semangat kebangsaan, seruan persatuan Indonesia, cinta tanah air, dan cita-cita membangun jiwa dan raga bangsa Indonesia.

Saya tertarik meninjau lagu itu dari sudut pandang pragmatik, khususnya deiksis. Alasan ketertarikan itu adalah, lagu memiliki syair, dan syair adalah ekspresi manusia, baik sebagai individu maupun sosial. Maka ada kata-kata yang tidak bisa dimaknai secara tekstual, tapi harus secara kontekstual, termasuk kata-kata yang dikategorikan sebagai deiksis. Dengan analisis itu kita bisa menggali makna tersirat untuk melihat implikasinya.

Kita mulai dengan pembahasan tentang deiksis. Apakah deiksis itu? Deiksis adalah kata yang maknanya sangat kontekstual, hanya dapat dipahami dengan melihat siapa yang berbicara, kapan dia berbicara, dan di mana dia berbicara. (Grundy, 2013). Maka kata-kata seperti aku, saya, kami, kau, kalian, dan kita hanya dapat dipahami dengan melihat siapa yang berbicara. Misalnya, seseorang bernama Chairil Anwar berkata “Aku”, maka kata itu bermakna si Chairil Anwar. Bila dia berkata “Kau” dan lawan bicaranya bernama Amir, maka kata itu bermakna si Amir. Deiksis yang demikian disebut sebagai deiksis personal.

Kemudian ada deiksis ruang. Deiksis ini mengacu pada tempat. Yang termasuk deisis jenis ini adalah di sini dan di sana. Makna kedua kata ini tergantung pada tempat kedudukan pembicara. Bila pembicara berada di Gorontalo, maka kata di sini bermakna di Gorontalo. Bila pembicara berada di kampus UNG, maka kata ini berarti di kampus UNG. Sedangkan di sana bermakna tempat yang jauh dari tempat pembicara berkedudukan.

 

Deiksis dalam Lagu Indonesia Raya 

Sekarang mari kita bahas deiksis dalam lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya. Untuk yang kita bahas hanya bait pertama karena pada bait itu saya menemukan deiksis yang menunjukkan apakah kita dekat atau malah jauh dari Indonesia.

Indonesia tanah airku

Tanah tumpah darahku

Di sanalah aku berdiri

Jadi pandu ibuku

 

Pada bait ini saya menemukan dua jenis deiksis, yaitu deiksis personal dan deiksis ruang. Deiksis personal adalah “aku”. Deiksis ruang adalah “di sana”. 

Aku adalah orang pertama tunggal. Apakah itu mengacu pada pencipta lagu atau penyanyi? Menurut hemat saya, kata itu mengacu pada penyanyi. Alasannya adalah bahwa ini adalah lagu kebangsaan milik seluruh rakyat Indonesia. Jadi sudah menjadi ekspresi setiap insan Indonesia. Jadi, pada saat lagu kebangsaan ini dinyanyikan, seluruh penyanyi mengucapkan “aku”.

Deiksis berikutnya adalah deiksis ruang, di sana. DI sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku. Kata di sana menunjukkan suatu tempat yang sangat jauh dari pembicara. Saat lagu ini dinyanyikan, kata di sana tidak menunjuk tempat di mana penyanyi berdiri, tapi tempat yang jauh, bahkan tidak jelas.

Bila di sana itu mengacu pada Indonesia, maka Indonesia jauh dari penyanyi. Indonesia berada di tempat yang entah di mana. Maka dapat dikatakan Indonesia jauh dari kita.

Mari kita bayangkan bila kata di sana diganti dengan kata di sini. Kata ini mengacu pada tempat di mana penyanyi berada. Maka di mana pun penyanyi berada, Indonesia tetap dekat dengan dia. Bahkan bila dia berada di negara lain, misalnya di Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, ke Australia, Amerika, Jerman untuk studi atau kepeluan lain, Indonesia tetap berada di dekatnya.

Ini menunjukkan bahwa kita masih jauh dari Indonesia.  Apakah ini yang menyebabkan kedekatan kita dengan Indonesia jauh dalam kenyataan? Bukankah kita melihat fenomena jauhnya Indonesia dari hati kita? DI Papua ada gerakan separatis yang dilabeli oleh institusi keamanan sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB. Zaman Orde Baru mereka dilabeli sebagai Organisasi Papua Merdeka atau OPM. Di samping itu, ada kegiatan melanggar hukum yang merusak negara kita, seperti korupsi, perusakan hutan oleh konglomerat yang kelihatannya didukung oleh tangan-tangan tak kelihatan.

Sebagai penutup, dari sudut pandang pragmatik, khususnya deiksis, Indonesia sangat jauh dari kita. Jadi, apakah kata di sana dalam larik lagu bait pertama perlu diganti dengan di sini? Sehingga baris itu akan berbunyi ”Di sinilah aku berdiri, jadi pandu ibuku”?

 

Bahan Bacaan

Grundy, P. (2013). Doing Pragmatics. In Doing Pragmatics. Taylor and Francis. https://doi.org/10.4324/9780203784310

Penghormatan

Artikel ini ditulis sebagai penghormatan pada guru pragmatik saya di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Prof. Abdul Wahab, M.A., Ph.D.

Penulis adalah Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo